Kayu “Ilegal Loging” Manager PT.ISP Mengaku Tidak Ketahui Kayu di Desa Pulau Kedep, Kapolres Aceh Singkil Diminta Turun Tangan

  • Whatsapp
Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia (LPHI) kota Subulussalam Ipong dan kayu yangnditemukan di kilang di Desa Pulau Kedep

Sinarlintasnews.com | Subulussalam – Manager perkebunan PT. ISP mengaku tidak mengetahui sumber kayu yang ditemukan di salah satu kilang di Desa Pulo Kedep beberapa waktu lalu.

Manager PT. ISP yang kerap disapa Hutapea ini kepada Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia (LPHI) kota Subulussalam Ipong yang mengkonfirmasi terkait kebenaran sumber kayu yang ditemukan di Desa Pulau Kedep, secara tegas menyatakan tidak mengetahui.

Bacaan Lainnya

“Masalah kayu di kilang itu kami tidak pernah ketahui,” ujar Hutapea.

Manager PT. ISP menyatakan, meskipun mereka menebang kayu di area Perkebunan, kayu-kayu tersebut diolah dan dipakai untuk keperluan perusahaan.

“Kalaupun kami mengambil kayu, itu kami olah sendiri untuk digunakan sesuai keperluan kami diperusahaan saja, dan itu ada izin resminya. Bukan perjual belikan,” terang Hutapea, Jumat (02/7/2019).

BACA JUGA : LPHI Temukan Ratusan Batang Kayu Diduga Ilegal di Kilang Desa Pulau Kedep

BACA JUGA : Gakkum dan KLHK Subulussalam Diminta Usut Kayu Diduga Ilegal Logging di desa Pulau Kedep

Sebelumnya, Kepala UPTD Kesatuan Pengelolasn Hutan (KPH) wilayah VI kota Subulussalam Irwandi menuturkan, pihaknya telah melakukan proses penyelidikan temuan kayu di kilang di desa Pulau Kedep, menurut keterangannya, kayu tersebut bukan Ilegal, kayu tersebut diperoleh dari PT. ISP dan berizin.

“Itu bukan Ilelagal Loging, mereka punya izin dari kementrian, kayu otu diperoleh dari lahan HGU PT. ISP,” jelas Irwandi sebelumnya saat dikonfirmasi ketua LPHI Subulussalam dikantornya.

Sementara itu, Ipong menyatakan, keterangan yang diberikan Irwandi masih diragukan kebenarannya, sebab persoalan asal maupun sumber kayu-kayu yang ditemukan di kilang desa Pulau Kedep belum diketahui pasti bersumber darimana.

“Keterangan Kepala UPTD belum dapat kita percayai sepenuhnya sebelum ini semua terang benderang darimana  suber kayu dan izin itu siapa yang mengeluarkan. Karena pihak PT. ISP membantah bukan dari mereka. Kasus ini akan terus kita telusuri,” kata Ipong.

Menurutnya, sesuai peraturan penebangan kayu memiliki proses ketentuan yang dilengkapi dengan dokumen kepemilikan dan surat izin minimal dari pemerintah setempat.

BACA JUGA : ilegalKetua DPP LSM Patroli Hukum Meminta Polres Aceh Tenggara Mengusut Pembakaran Rumah Wartawan Serambi Indonesia

BACA JUGA : Kapolsek Rundeng Gelar Pengamanan Turnamen Sepak Bola Souraya Cup ke XXVIII Persiapan HUT RI ke -74

“Menebang sebatang pohon saja dilahan kita harus diketahui oleh pemerintah setempat, setidaknya izin dari Kepala Desa atau Lurah, dan itu juga harus kita terapkan peruntukannya untuk apa, konon kayu yang jumlahnya ratusan batang itu,” jelas Ipong.

Kayu-kayu bulat yang berjumlah ratusan batang di kilang Desa Pulau Kedep kata Ipong harus diusut sesuai prosedur hukum, sebagaimana diatur dalam UU No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H).

“Ketentuan perundangan-undangan ini merupakan lex specialis (ketentuan khusus) dari UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan (Kehutanan), ini harus di usut tuntas,” ujarnya.

Selain itu, Ipong juga meminta Kapolres Aceh Singkil turun tangan langsung untuk menindaklanjuti kayu-kayu yang belum dikatahui pasti bersumber dari siapa dan didapatkan dari lahan perkebunan siapa.

“Kita meminta kepada Kapolres Aceh Singkil, bapak AKBP Andrianto Argamuda untuk mengusut kasus ini, sebab jika ini dibiarkan maka tidak tertutup kemungkinan perambatan hutan akan semakin menjadi-menjadi dan sudah jelas akan berakibat fatal,” terang Ipong.

Pantauan dilapangan, memang benar, kayu yang masih berbentuk bulat dan siap dikelolah terlihat ratusan batang dengan berbagai jenis dan ukuran berfariasi didepan kilang di Desa Pulau Kedep, kota Subulussalam.(Udin).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.