Foto: Kampus Nauli Husada SIBOLGA | Wakil Ketua I Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Nauli Husada, Herlina, membantah pemberitaan yang menyebut mahasiswa dipaksa mengangkat besi beton selama dua hari berturut-turut. Menurutnya, informasi tersebut tidak menggambarkan fakta secara utuh dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Herlina menjelaskan, kegiatan yang berlangsung pada Jumat (26/6/2026) itu merupakan gotong royong penataan lingkungan kampus dalam rangka persiapan akreditasi Program Studi S1 Keperawatan, bukan pekerjaan paksa maupun aktivitas yang diwajibkan kepada mahasiswa.
“Kegiatan itu diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri dari anggota PMI, dosen, dan mahasiswa. Jadi bukan hanya mahasiswa saja yang terlibat. Tidak benar jika disebut mahasiswa dipaksa mengangkat besi selama dua hari,” ujar Herlina saat memberikan klarifikasi, Rabu (1/7/26).
Ia mengatakan, dari ratusan mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut, hanya satu orang yang kemudian menyampaikan keberatan sebagaimana dimuat dalam pemberitaan sebelumnya. Sementara mahasiswa lainnya tetap mengikuti kegiatan gotong royong tanpa merasa dipaksa.
Menurut Herlina, material besi yang dipindahkan sebelumnya berasal dari panglong dan sempat tertunda penataannya karena terjadi bencana. Akibat terlalu lama berada di lokasi terbuka, pihak kampus khawatir tumpukan besi dan genangan air di sekitarnya dapat menjadi sarang nyamuk sehingga dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan kering.
Herlina menegaskan, aktivitas yang terekam dalam pemberitaan bukan merupakan bentuk eksploitasi mahasiswa maupun pekerjaan yang diwajibkan institusi. Kegiatan tersebut dilakukan dalam situasi tertentu sebagai bentuk semangat gotong royong dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kampus.
“Kami menyayangkan adanya pemberitaan yang hanya menampilkan sebagian informasi sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Kami mengimbau semua pihak melakukan klarifikasi dan verifikasi fakta sebelum menyebarluaskan informasi agar tidak membentuk opini yang keliru,” katanya.
Ia menambahkan, STIKes Nauli Husada tetap berkomitmen menjaga keselamatan, kenyamanan, dan hak-hak mahasiswa dalam setiap kegiatan kampus. Pihak kampus juga menyatakan terbuka memberikan penjelasan kepada siapa pun yang membutuhkan klarifikasi berdasarkan fakta yang sebenarnya.
“Kami berharap masyarakat memperoleh informasi yang berimbang sehingga dapat memahami kronologi kejadian secara objektif,” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang perwakilan mahasiswa berinisial YL juga memberikan klarifikasi terkait pemberitaan yang berjudul “Dugaan Kerja Paksa Mahasiswi STIKES Nauli Husada Diminta Angkat Besi Beton 2 Hari Berturut-turut.”
YL menyampaikan bahwa berdasarkan pengalaman mahasiswa dari Program Studi S1 Keperawatan, S1 Kesehatan Masyarakat, D3 Kebidanan, dan D3 Keperawatan, kegiatan pemindahan besi memang dilakukan di lingkungan kampus. Namun, mereka tidak mengalami adanya pemaksaan sebagaimana yang diberitakan.
“Kami tidak mengalami ancaman, intimidasi, maupun sanksi akademik apabila tidak mengikuti kegiatan tersebut. Kami juga tidak mengetahui adanya mahasiswa yang diperlakukan seperti buruh atau diwajibkan mengangkat seluruh material yang ada di lokasi,” ujar YL.
Menurutnya, kegiatan berlangsung dalam waktu terbatas dan merupakan bagian dari penataan lingkungan kampus menjelang proses akreditasi. Ia juga menegaskan bahwa pemberitaan yang menyebut seluruh mahasiswa mengalami trauma dan enggan mengikuti perkuliahan tidak sesuai dengan kondisi yang mereka alami.
“Kami tetap mengikuti kegiatan akademik seperti biasa dan tidak merasa mengalami tekanan sebagaimana yang diberitakan. Kami menghormati apabila ada mahasiswa lain yang memiliki pengalaman berbeda, namun kami berharap media juga memberikan ruang kepada mahasiswa yang memiliki pengalaman berbeda agar informasi yang diterima masyarakat lebih berimbang,” katanya.
YL juga menyampaikan keberatan karena fotonya dimuat dalam pemberitaan sebelumnya dan berharap hak privasinya dihormati.
Melalui klarifikasi tersebut, pihak kampus dan sejumlah mahasiswa berharap masyarakat memperoleh informasi yang utuh, berimbang, dan berdasarkan fakta sehingga tidak menimbulkan persepsi yang keliru terhadap kegiatan gotong royong yang dilaksanakan di lingkungan STIKes Nauli Husada.(Jerry).
Tidak ada komentar