SIBOLGA | Polemik internal di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aek Parombunan 2 kembali menjadi sorotan publik setelah viralnya video permintaan maaf Kepala SPPG, Abri Ady Tri Putra Bungsu, terkait dugaan bermain judi online dan membawa perempuan ke kamar Kepala SPPG.
Di balik video permintaan maaf tersebut, Abri mengaku mengalami tekanan psikologis selama menjalankan operasional dapur SPPG. Ia menyebut tekanan itu berasal dari pihak Yayasan Generasi Emas Sibolga-Tapanuli yang menurutnya kerap menjadikan video viral tersebut sebagai alat penekanan dalam berbagai kebijakan operasional.
Selain persoalan pribadi yang telah viral di media sosial, Abri juga mengungkap sejumlah persoalan internal di dapur SPPG yang dinilainya bertentangan dengan prosedur dan standar operasional Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia menyoroti kualitas bahan baku yang disebut tidak sesuai standar mutu, fasilitas dapur yang belum memenuhi petunjuk teknis, hingga keterlambatan distribusi bahan baku yang berdampak pada pendistribusian makanan.
“Akibatnya distribusi makanan pernah berlangsung hingga sore menjelang malam,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Abri juga menyinggung dugaan mark-up harga dan laporan pembelajaran yang disebut tidak sesuai waktu pelaksanaan.
“Didalam diri saya timbul pergolakan, apakah saya membiarkan semua ini atau menyelamatkan kepentingan pribadi saya,” ujarnya.
Menanggapi tudingan tersebut, pihak Yayasan Generasi Emas Sibolga-Tapanuli membantah seluruh pernyataan Kepala SPPG Aek Parombunan 2.
Perwakilan yayasan, Ganda Anugerah, menegaskan dirinya tidak pernah memberikan tekanan kepada Kepala SPPG sebagaimana yang dituduhkan.
“Alhamdulillah tidaklah benar bang, saya bertanggung jawab atas ucapan saya,” kata Ganda saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan WhatsApp, Selasa (26/5/2026).
Ia menyebut selama ini komunikasi dengan Kepala SPPG berjalan normal dan dirinya justru lebih sering bertanya dibanding memberikan tekanan.
“Saya tidak pernah melakukan tekanan terhadap KA SPPG. Sejauh ini ucapan saya masih normal, malah saya lebih sering bertanya kepada Kepala SPPG dibanding berucap,” tambahnya.
Ganda juga menjelaskan bahwa penerapan SOP dapur merupakan tanggung jawab Kepala SPPG karena berperan langsung dalam operasional hingga distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, persoalan bahan baku juga berada dalam pengawasan Kepala SPPG bersama ahli gizi karena seluruh bahan yang masuk ke dapur telah melalui proses penyortiran dan dinilai layak digunakan.
“Kami sebagai mitra selalu berupaya melengkapi kebutuhan agar pekerjaan relawan berjalan lancar. Terkadang ada barang yang harus dipesan dari Jawa sehingga membutuhkan waktu,” jelasnya.
Terkait keterlambatan distribusi bahan baku, Ganda tidak membantah hal tersebut pernah terjadi, terutama pada masa awal operasional makanan basah. Namun pihaknya mengaku selalu berkoordinasi dengan ahli gizi untuk mencari alternatif bahan yang mudah diperoleh.
Ia juga menepis tudingan mark-up anggaran dalam pengelolaan dapur SPPG.
“Kami dituduh mark-up harga, itu tidak benar. Sejauh ini kami tidak melebihi pagu anggaran. Bahkan dana pribadi kami sering terpakai untuk memenuhi menu di luar pagu agar MBG tetap berjalan lancar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ganda mengungkapkan pihak yayasan telah melaporkan persoalan yang melibatkan Kepala SPPG tersebut kepada Korwil Sibolga, Kareg Sumut hingga akun pengawasan SIDAK BGN sejak April hingga Mei 2026.
“Jangan karena persoalan pribadi atau oknum KA SPPG, dia mencari alasan-alasan pembenaran untuk membela diri. Laporan ini sudah saya layangkan sejak awal April hingga awal Mei 2026 dan masih menunggu hasil dari BGN,” ungkapnya.
Ia juga mengaku selama ini berupaya menyelesaikan persoalan tersebut secara internal meski pihak yayasan mendapat tekanan dari masyarakat akibat perbuatan Kepala SPPG yang viral di media sosial. (Red).
Tidak ada komentar