Tidak Sekedar Kritik, Grup Tapteng Bersatu Untuk Perubahan Serahkan Bantuan Biaya Pendidikan Dina Hayani

  • Whatsapp
Parlaungan Silalahi dan Ribu Simatupang mewakili Grup Tapteng Bersatu Untuk Perubahan saat menyerahkan bantuan pendidikan Dina Hayani

TAPANULI TENGAH | Sinarlintasnews.com – Grup Facebook Tapteng Bersatu Untuk Perubahan (TBUP) menyerahkan bantuan pembiayaan kuliah Dina Hayani yang sebelumnya ramai bicarakan di media sosial soal biaya kuliah Dani Hayani yang terkendala masalah biaya SPP.

Bantuan sosial tersebut diserahkan langsung oleh Parlaungan Silalahi, SH Selaku Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Sumatera (LKBHS) dan Ribu Simatupang (LSM) sebagai perwakilan anggota Grup TBUP, Senin (13/7/2020).

Bacaan Lainnya

Parlaungan Silalahi mengungkapkan, bantuan tersebut merupakan hasil dari donasi anggota grub TBUP yang peduli dengan pendidikan, terlebih bagi siswa yang kurang mampu, seperti halnya yang dialami Dina Hayani.

“Kami mewakili kawan-kawan dari grup TBUP perlu penjelaskan, dalam hal ini tidak ada unsur politik, kami hanya murni membantu, ini murni kemanusiaan membantu adek ini. Kami hanya terketuh hati melihat keadaan adek ini. harapan kami adek ini bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi sesuai dengan keinginnya dan kelak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Sementara itu, Menurut Moranaluhole Tanggunan salah satu penggagas penggalangan dana sekaligus anggota Grup TBUP menyatakan, kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan, termasuk untuk membantu biaya pendidikan Dina Hayani untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Kegiatan sosial ini merupakan bentuk kepedulian para anggota grup TBUP peduli dengan pendidikan, apala lagi menyikapi situasi yang dialami Dina Hayani, penuh keprihatinan ketidak mampuan orang tua. Dina Hayani ini siswa berprestasi jadi sangat kita sayangkan jika tidak kita perjuangkan, apa lagi Dina ini sangat gigih untuk melanjutkan pendidikan,” ungkapnya.

Dikatakannya, Meski pandemi sedang berlangsung, mutu pendidikan anak-anak kita tidak boleh sedikit pun berkurang, apa lagi di Kabupaten Tapanuli Tengah. Sehingga penyaluran bantuan sosial fungsi pendidikan akan diberikan secara obyektif, akuntabel, transparan, dan tanpa diskriminasi.

Selian itu, Moranalu juga menyampaikan terima kasih banyak kepada rekan-rekan anggota grup TBUP yang sudah secara bersama-sama membantu biaya pedidikan Dina Hayani. Meski tidak seberapa yang diberikan, namun setidaknya sudah mencukupi biaya pembayarak SPP Dina Hayani.

“Inilah bentuk kepedulian dan kesolitan kami anggota grup TBUP, kami bukan anti pemerintah, tapi setidaknya kami membantu pemerintah, seperti saat ini, mungkin pemerintah sedang sibuk dalam penanganan Covid-19, jadi berupaya untuk membantu adek ini agar tidak sempat terkendala pendidikannya,” terang Moranaluhole.

Moranalu menambahkan, sebelumnya juga mereka telah membantu tiga orang mahasiswa asal Kecamatan Andam Dewi, Kabupaten Tapanuli Tengah yang sempat terkendala masalah biaya yakni Dian Alfrido Simanullang di Institut Tegnologi Kalimantan, Herlina Sihombing di Palangkaraya, dan Melisa Hutapea di Palanglaraya.

“Ketiga Putra-putri Tapteng ini sudah berangkat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan itu juga semua berkat bantuan sosial dari rekan-rekan anggota Grup TBUP. Dana yang terkumpul langsung kita serahkan kepada mereka. Jadi Grup TBUP itu bukan tukang buat fitnah. Tapi kadang banyak memang anggota yang suka mengkritik di grup itu, tapi kritikannya membangun. Harapan kita semoga semua anggota grup bisa kompak dan solid dalam membantu orang-orang yang membutuhkan,” jelasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Dina Hayani (18) anak sulung dari pak Sukarman dan ibunya Unaizah (41) warga Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Uatara.

Dina Hayani lulus SMA sudah mendaftar dan lulus di perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padang Sidimpuan jurusan Perbankan Syariah.

Namun harapan Dina Hayani serasa pupus dikarenakan faktor ekonomi, kedua orang tuanya tidak mampu membiayai keperluannya. Belum lagi ke tiga saudaranya yang juga butuh biaya sekolah.

Sementara Dina Hayani haya punya waktu hingga tanggal 14 Julin 2020 sekitar dua hari kedepan dan harus menyediakan uang untuk biaya ke Kampus sekitar Rp 2.500.000, jika tanggal tersebut Dina belum menyerahkan uangnya maka akan dinyatakan gugur.

Hal tersebut membuat Dina Hayani hanya mampu menangis. Sementara orang tua tidak mampu. Dengan waktu yang sudah sangat singkat, Dina Hayani hanya berdoa dan pasrahkan diri kepada Tuhan, kendati berharap ada orang ataupun pemerintah yang mau membantunya agar dapat melanjutkan pendidikan.

Kondisi kesehari-harian Dina Hayani memang sangat memprihatinkan. mereka hanya tinggal di gubuk reyot berdindingkan terbuat dari anyaman bambu dan penuh lubang berlantaikan tanah dan hanya memakai lampu cempor yang menjadi sumber penerangan satu-satunya, tanpa penerangan listrik, sungguh sangat tidak layak untuk dihuni.

Mirisnya lagi sudah tinggal di gubuk, sementara tanah masih menumpang ditanah orang di tengah kebun karet (Rambung) dan sawah tanpa ada tetangga dan kapan saja mereka bukan tidak mungkin akan di suruh pidah dari tanah yang mereka tumpang saat ini.

Dina Hayani bersama kedua orang tuanyandan ketiga orang saudaranya tinggal di Gubuk yang terbuat dari kayu berukuran 2×4 meter persegi itu tampak sudah ringkih dan doyong ke belakang akibat tiang penyangga yang sudah lapuk.

Didalam ruangan juga hanya terdapat kasur lepek tanpa perabotan dan barang berharga lainnya, sedangkan untuk memasak hanya menggunakan tungku yang bahan bakarnya dari kayu.

Tak jarang rumah mereka juga sering kebanjiran karena kondisi dekat persawahan terlebih di musim hujan, selain kebanjiran, air hujan juga masuk kedalam rumah karena atap bocor dan dinding yang masih terbuat dari anyaman bambu.

Cerukan di samping rumah menjadi satu-satunya sumber air untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus. Tapi, kalau sudah hujan airnya jadi keruh, namun karena tidak ada lagi, mau tak mau harus dipergunakan.

“Kalau hujan kami sangat susah tidur pak, atap rumah kami bocor, apa lagi kalau banjir, air masuk kedalam rumah kami,” ujar Unaizah Manik ibu Dina Hayani menangis sedih.

Unaizah sendiri kerja serabutan, sedangkan suaminya ikut orang melaut, terkadang suaminya pulang tidak membawa hasil apapun. Bahkan anaknya nomor dua yang baru saja tammat sekolah terpaksa tidak melanjutkan sekolah karena biaya, mengingat anak gadisnya yang ingin kuliah, namun bingung karena ketiadaan ekonomi.(Jerry).

Parlaungan Silalahi dan Ribu Simatupang mewakili Grup Tapteng Bersatu Untuk Perubahan saat menyerahkan bantuan pendidikan Dina Hayani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.