Viral di Medsos Beras Bansos Covid-19 Busuk dan Tidak Sesuai Dengan Karung, Berikut Fakta Penjelasan Bupati Tapteng

  • Whatsapp
Foto : Bupati Tapanulu Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani (foto istimewa)

Tapanuli Tengah | Sinarlintasnews.com – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah menanggapi isu yang beredar di sosial media terkait bantuan sosial yang disalurkan dikeluhan warga.

Beberapa hari terakhir ini, perbincangan soal beras bantuan sosial yang dinilai tidak layak. Dari berbagai unggahan di sosial media, netizen mengunggah sejumlah foto-foto beras bantuan. Dalam unggahan tersebut, netizen memprotes karung beras berbagai merek tidak sesuai dengan isi kualitas beras dalam karung, bahkan dikabarkan beras sebagin busuk dan berwarna hitam kecoklatan.

Menanggapai hal tersebut ditanggapi Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani kepada Sinarlintasnews.com mengungkapkan, kalau kualitas beras yang dibagikan tersebut berkualitas medium dengan anggaran Rp. 10.600 per Kg.

“Beras itu anggaranya Rp.10.600 sekilo, yang Rp 10.600 itu ditanyak aja Bulog itu beras apa, ya beras raskin, kualitasnya memang itu, jadi kalau kita belikan beras mahal yang dapat cuma 20 ribu KK. Anggaranya kita cuma ada 16 Miliar dan itu uda untuk kesehatan, tenaga medis, yang 16 miliar itu bukan saja untuk beli makanan, untuk penyemprotan rumah, mendirikan posko, PTPD semua itu dan itu belum digunakan,” katanya. Saptu (9/5/2020).

Dijelaskannya, terkait isu yang beredar ketidak sesuaian karung dengan isi, Bupati menegaskan, sebelumnya telah jelaskan, untuk pembagian beras kemungkinan besar pelastikpun akan digunakan karena keterbatas karung ukuran 5 Kg sebab karung yang tersedia untuk ukuran 10 Kg.

“Jadi beras itu yang ada kan cuman 10 Kg, jadi karena dibuat 5 Kg 5 Kg biar banyak mendapat, otomatis kan karung bukan lagi karung 10 Kg itu lagi, yang pentingkan berasnya. Sama itu kayak intermi, itu banyak bilang Mark Up, memang harganya cuma Rp. 35 ribu oleh Dinas Sosial, tidak mungkin dibeli Indomi, kalau indomi itu bisa dapat 20 bungkus bahkan 10 bungkus,” katanya.

“Saran, kalau memang ada masyarakat ada yang keberatan tidak mau menerima, gak perlu ribut dipulangkan saja masih banyak orang yang membutuhkan, atau kalau itu busuk dilaporkan biar di ganti. Bisa saja beras berkualitas tinggi, tapi yang dapat cuma 20 KK, bisa rubut, Kan beras itu bisa dimakan, bukan gak bisa dimakan, kalau soal karung dari awal sudah kami jelaskan, kemungkinan besar pelastikpun akan digunakan. Keuali kami Mark Up harga berasnya Rp 25.000 perkilo itu baru kami salah,” sambung Bupati Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani.

Sebelumnya dihari dan ditempat terpisah, Kepala Dinas Sosial Tapteng Parulian menjelaskan, beras yang siapkan tersebut jenis beras medium, yang dulu boleh dikatakan beras Sejahtera atau rastra, dengan harga Rp10.600 per kg harga bulog.

“Beras yang kita siap itu jenis beras medium, itu dulu boleh dikatakan beras sejahtera atau raskin itulah dia, harga Rp, 10.600 harga bulog per Kg. Kenapa kemasan seperti itu tidak sesuai dengan isi kan itu Masalahnya, itu karena penyedia barang tidak sempat mencetak karung dalam waktu proses satu Minggu, karena pabrikan tutup semua, sehingga dikemas lah beras ini dengan karung yang ada. Tapi intinya dari beras itu tetap medium walaupun bungkusannya bintang 5 atau premium isinya kita tetap kita isi dimedium oke,” Katanya, Saptu (9/5/2020).

Kalau dia bau atau apa segala macam, itu tidak ada komplain dari masyarakat, kalau umpamanya ada komplain atau memang tidak layak untuk dimakan, penyedia barang bersedia untuk mengganti barang itu. Tapi perlu diketahui Kalau memang dia biasa makan enak-enak masuk ini pula jangan dia terima bantuan beras ini berarti dia kaya, dipulangkan saja, yang kita anggarkan itu kan medium bukan premium itu perbedaannya, kalau karung itu memang hanya kemasan, karena keterbatasan karung di pasar, pabrik tidak bisa mencetak jadi karung yang adalah dibuat, kalau isi medium.

Parulian menjelaskan, jika ada masyarakat penerima yang mengembalikan, maka di kembalikan ke kepala desa setempat dan akan segera diganti.

“Itu nanti kami ditelpon, itu kita ganti, tapi penyedia barang ingin membuktikan itu, inikan sudah 14 hari, bisa saja si penerima kena air kesalahan dia kena air setelah busuk kek gitu disalahkan kita, kenapa baru 14 hari dikatakan busuk, ya mungkin kena air segala macam,” terangnya.

Dikatakannya, saat penyaluran mereka kerja siang dan malam dengan menyediakan 40 ribu lebih. Maka bila ada yang kompalain sekitar 500 sak atau satu persen 400 sak, Menurut Parulian itu sangat wajar. Sebagai penyalurkan, Dinas sosial tidak mungkin membuka satu satu karungnya beras yang akan disalurkan.

“Waktu kita menyalurkan gudang itu semua kita foto baru kita salurkan, ada dokumentasi ko barang itu sudah disakurkan, semua kita foto dan kemudian lagi kalau memang ada niat untuk menipu, itu kan ada empat macam komponen itu kan, beras,minyak makan, gula sama intermi,kenapa hanya satu komponen ini, kenapa tidak minyak makan curahan aja kami buat inikan kemasan fotuna, jadi kalau ada masalah ada yang butuh apa segala macam tidak tidak bisa dimakan lagi kami mengganti,” katanya.

Diterangkannya, bantuan sembako tersbut adalah bantuan atas dampak penanggulangan penyebaran covid-19, dengan acuan harga dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

“Karena mereka ada penyampaian setiap hari atau setiap minggu itu karena covid-19 ini ada daftar harga pangan strategis. Kemudian dalam kertas kerja aku, itu survei ke warung-warung, berapa sih harga satu sak harga beras ini kan. itu aku review ke inspektorat,” ungkapnya.

Selain itu, Acuan-acuan baik itu dari kertas kerja survey warung baik itu secara tertulis dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, harga tersebut seharga Rp.10.600 per Kg.

“Kalau masalah karung tak perlu kita bicarakan lagi karena ini kondisi darurat. Kemudian 40.000 sak secara logika lah pastilah ada yang busuk Karena pada saat kita pengiriman itu hari hujan, bisa saja karena hujan, dan itu sampai ke masyarakat sudah 14 hari, mungkin saja pada saat itu tidak langsung di konsumsi, disimpan dulu, ya busuklah,” ujarnya.

Secara force majeure, Parulian mengatakan, dalam pelaksanaan, mulai dari pengiriman hingga pembongkaran ke gudang dan juga penyaluran kepada masyarakat kondisi cuaca hujan.

“Ibarat telor kita antar 1000 tak boleh kita katakan tidak ada yang pecah satu pun, gak akan mungkin, seperti itulah ini, 40. 000 sak, sementara pengiriman dari luar kota kemudian maksuk kegudang, dari gudang saya jemput saya kirim ke desa-desa pada saat itu kita ketahui distribusi dalam kondisi hujan. Tapi walaupun seperti itu kita harus kita ganti udah banyak yang kita ganti ini hari ini bergerak lagi 180 sak, kita terus keliling yang penting barang buktinya ada, hari ini 10 sak saya ganti. force majeure dalam pelaksanaan di angka 40. 000 sak sangat wajar 1% dari 40. 000 sak ada yang rusak,” terangnya. (Jerry).

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.