Tapanuli Tengah | Semangat belajar ratusan siswa SMK Negeri 1 Badiri patut menjadi perhatian sekaligus inspirasi dunia pendidikan. Selama enam bulan terakhir, para siswa terpaksa menjalani proses belajar mengajar di bawah tenda darurat bantuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah setelah sekolah mereka rusak parah akibat banjir bandang.
Bangunan sekolah yang sebelumnya digunakan kini tidak lagi layak ditempati karena tertutup lumpur dan mengalami kerusakan berat akibat bencana yang terjadi pada 25 November 2025 lalu. Demi memastikan pendidikan tetap berjalan, pihak sekolah memindahkan aktivitas belajar ke lahan kosong di Desa Aek Horsik, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Di lokasi tersebut, empat tenda bantuan berukuran 5×16 meter didirikan sebagai ruang belajar sementara. Setiap tenda dibagi menjadi dua ruang kelas untuk menampung aktivitas belajar para siswa.
Pemandangan para siswa yang belajar dengan beratapkan terpal dan berlantaikan tanah menjadi gambaran nyata beratnya perjuangan pendidikan di tengah keterbatasan. Meski demikian, para guru dan siswa tetap bertahan agar proses belajar tidak terhenti.
Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Badiri, Sahala Simanungkalit, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pihak sekolah. Namun, mereka tetap berupaya menjaga semangat belajar siswa di tengah keterbatasan fasilitas.
“Beginilah kondisi sekolah kami saat ini. Bangunan lama sudah tidak dapat digunakan setelah diterjang banjir bandang. Dengan terpaksa kami memindahkan proses belajar mengajar ke Desa Aek Horsik menggunakan empat tenda bantuan dari kementerian,” ujarnya saat ditemui wartawan, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, sistem belajar terpaksa dibagi menjadi dua sesi karena keterbatasan ruang kelas. Untuk siswa kelas X, pembelajaran berlangsung mulai pukul 07.30 WIB hingga 12.30 WIB. Sedangkan kelas XI belajar mulai pukul 13.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Menurutnya, kondisi belajar di bawah tenda sangat jauh dari kata nyaman. Selain ruang belajar terbatas, sekolah juga tidak memiliki lapangan untuk melaksanakan upacara maupun kegiatan sekolah lainnya.
“Ini menjadi persoalan serius bagi kami, terlebih saat ini sekolah sedang melaksanakan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru tahun ajaran 2026-2027. Kami belum tahu nantinya di mana siswa baru akan belajar apabila pembangunan ruang kelas permanen belum juga terealisasi,” katanya.
Kepala Sekolah SMKN 1 Badiri, Kardi Simanjuntak, menyebut pihak sekolah masih menunggu realisasi pembangunan gedung baru dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Pendidikan Sumut.
Ia mengaku optimistis pembangunan sekolah baru akan segera dimulai di Kelurahan Hutabalang, Kecamatan Badiri. Namun di sisi lain, pihak sekolah juga menghadapi kekhawatiran terkait penerimaan siswa baru.
“Kami menargetkan bisa menerima sekitar 200 siswa baru, tetapi sampai hari ini baru sekitar 50 calon siswa yang mendaftar. Jika gedung baru belum segera dibangun, tentu kami kesulitan menampung siswa nantinya,” jelasnya.
Tak hanya kehilangan ruang belajar, SMKN 1 Badiri juga kehilangan banyak fasilitas pendidikan akibat banjir bandang. Peralatan seperti komputer, laptop, AC, hingga mobiler sekolah dilaporkan rusak maupun hilang.
Akibatnya, sejumlah jurusan keahlian seperti Pemasaran, Akuntansi, Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Tata Busana, Perkantoran, hingga Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI) belum dapat berjalan maksimal karena minimnya sarana praktik.
Meski begitu, pihak sekolah tetap menyimpan harapan besar agar pembangunan sekolah baru segera dimulai. Kardi menyebut proses administrasi hibah lahan pembangunan sekolah dari Kementerian Pertanian telah diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
“Semoga awal Juni 2026 pembangunan gedung baru sudah dimulai. Kami berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lebih memberi perhatian kepada SMKN 1 Badiri yang sudah enam bulan merasakan pahitnya belajar di bawah tenda,” pungkasnya.
Kondisi yang dialami SMKN 1 Badiri menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal gedung megah dan fasilitas lengkap, tetapi juga tentang keteguhan guru dan siswa mempertahankan harapan di tengah bencana. Semangat mereka menjadi potret nyata bahwa keterbatasan tidak boleh menghentikan hak anak untuk terus belajar.(Edy Butarbutar).
Tidak ada komentar