Foto: Ilustrasi Di sebuah sudut Kabupaten Tapanuli Tengah yang tak pernah benar-benar tidur oleh notifikasi media sosial, dimana lebih cepat menerima gosip daripada sinyal 5G, hiduplah seorang remaja bernama Epik Saribu tentu saja itu bukan nama sebenarnya, karena nama aslinya terlalu sering muncul di kolom komentar.
Epik Saribu masih duduk di bangku SMA. Seragamnya kadang masih berbau kapur tulis dan minyak rambut murah. Tetapi di dunia maya, ia sudah menjelma menjadi banyak hal.
Pagi hari: Tokoh Pemuda.
Siang hari: Duta Lingkungan.
Sore hari: Aktivis.
Malam hari: Motivator bangsa.
Besoknya? Tergantung tren.
Minggu depan? Hampir saja jadi calon penyelamat dunia.
Begitulah kira-kira.
Aktivis Berbekal Kuota
Epik Saribu percaya satu hal penting:
jika punya paket data besar, maka suara harus lebih besar lagi.
Ia rajin membuat video dengan latar musik dramatis. Sorot matanya tajam, alisnya bergetar penuh idealisme.
Kalimat-kalimatnya disusun seolah-olah ia baru pulang rapat kabinet.
Padahal, lima belas menit sebelumnya ia masih mencontek PR Matematika.
Ia mengkritik kebijakan.
Ia menegur pemerintah.
Ia menyentil aparat.
Ia mengulas lingkungan.
Lingkungan yang mana? Ya… yang penting ada pohon di latar belakang.
Banjir dan Panggung Emas
Ketika banjir melanda daerahnya, Epik Saribu seperti menemukan takdirnya. Air meluap, dan kontennya ikut meluap.
Di tengah genangan air, ia berdiri dengan sepatu bersih (karena baru dipakai dua menit sebelum rekaman). Dengan nada penuh keprihatinan, ia bertanya kepada kamera:
“Di mana tanggung jawab kalian?”
Netizen terdiam. Sebagian kagum. Sebagian bingung. Sebagian lagi sibuk mencari tahu siapa sebenarnya anak ini.
Epik Saribu menikmati setiap notifikasi seperti petani menikmati panen raya.
Followers naik.
Komentar bertambah.
Ego pun ikut tumbuh seperti rumput setelah hujan.
Investigasi Tanpa Undangan
Suatu hari, demi konten yang lebih “mendalam”, Epik Saribu dan seorang kawannya memutuskan melakukan investigasi. Tanpa surat tugas. Tanpa izin. Tanpa prosedur. Hanya bermodal keberanian dan keyakinan bahwa kamera ponsel adalah kartu identitas tertinggi.
Mereka mendatangi sebuah tempat resmi. Katanya untuk mencari kebenaran.
Padahal yang dicari mungkin hanya satu: viral.
Kisahnya lalu simpang siur. Versi Epik Saribu dramatis. Versi orang lain lebih realistis. Dunia maya gaduh seperti pasar pagi.
Epik Saribu semakin yakin:
ia bukan lagi anak sekolah.
ia sudah tokoh.
Mahkota dari Plastik
Sayangnya, hidup bukan panggung TikTok yang bisa diedit sesuka hati.
Di balik layar, ada cerita yang tak pernah masuk ke feed. Ada perilaku yang tak pernah disiarkan langsung. Ada sisi yang tak mendapat filter.
Dan seperti petir di siang bolong klise, memang, tapi selalu relevan kabar mengejutkan muncul.
Tuduhan serius menjeratnya.
Anak yang dulu paling lantang berbicara tentang moral, kini dibicarakan karena moralnya sendiri.
Notifikasi yang dulu berbunyi tiap menit, kini berganti sunyi.
Kamera yang dulu aktif, kini redup.
Panggung yang dulu terang, kini gelap.
Mahkota yang ia pakai ternyata bukan emas.
Hanya plastik yang mudah retak.
Komedi yang Berubah Sunyi
Jika diingat, perjalanan Bima terasa seperti komedi remaja.
Seorang siswa yang belum lulus sekolah tapi sudah merasa lulus kehidupan.
Mengkritik tata kelola daerah, tapi belum bisa mengelola emosinya sendiri.
Mengajari etika publik, tapi lupa menjaga etika pribadi.
Kita mungkin tertawa.
Tapi tawa itu pelan-pelan berubah menjadi renungan.
Karena yang jatuh bukan hanya reputasi.
Yang runtuh bukan hanya citra.
Yang terhenti bukan hanya perjalanan karier dunia maya.
Yang hilang adalah masa depan yang seharusnya masih panjang.
Pelajaran dari Sebuah Status
Epik Saribu adalah gambaran zaman.
Zaman ketika validasi lebih dicari daripada validitas.
Ketika pengikut dianggap lebih penting daripada pembimbing.
Ketika viral lebih berharga daripada benar.
Ia ingin dihormati sebelum belajar menghormati.
Ia ingin memimpin sebelum mampu memimpin dirinya sendiri.
Ia ingin dunia berubah, tanpa mau berubah terlebih dahulu.
Langkah, rezeki, pertemuan, bahkan musibah datang tanpa notifikasi.
Dan hidup, berbeda dengan media sosial, tidak menyediakan tombol “hapus” untuk kesalahan yang terlalu jauh.
Sebuah Penutup yang Tidak Satir
Kisah ini bukan untuk mencibir.
Bukan pula untuk menghakimi.
Ini tentang seorang anak yang terlalu cepat memakai gelar sebelum menumbuhkan karakter.
Tentang kita semua, mungkin.
Karena di era ini, sangat mudah menjadi “tokoh”.
Cukup kamera, kuota, dan keberanian berbicara.
Namun menjadi manusia yang utuh
itu butuh kerendahan hati.
Dan mungkin, itulah gelar yang paling sulit didapatkan.
Suatu hari, kabar mengejutkan datang. Epik Saribu diringkus Polisi karena serius menjeratnya.
Erik Saribu yang dulunya lantang berbicara, kini bagaikan pohon tandus di tengah gurun.
Epik Saribu harus mendekam dibalik jeruji besi atas kasus pelecehan anak dibawah umur.
Dunia yang dulu ramai memberi tepuk tangan kini sunyi. Notifikasi berhenti. Kamera tak lagi ia arahkan ke wajahnya sendiri.
Langkahnya terhenti.
Perjalanannya mendadak selesai sebelum garis akhir yang ia bayangkan.
Orang-orang terdiam. Sebagian kecewa. Sebagian menggelengkan kepala. Sebagian lagi bertanya-tanya: bagaimana bisa anak yang begitu lantang berbicara tentang moral dan kepedulian, justru tersandung oleh perilakunya sendiri?
Kisah Epik Saribu bukan hanya tentang kejatuhan. Ini tentang seorang anak yang terlalu cepat memakai mahkota sebelum belajar menundukkan kepala.
Ia ingin dihormati sebelum belajar menghormati.
Ia ingin didengar sebelum belajar memahami.
Ia ingin memimpin sebelum mampu memimpin dirinya sendiri. Media sosial memberinya panggung.
Namun karakterlah yang menentukan apakah seseorang layak berdiri di atasnya.
Jika diingat, perjalanan Epik Saribu kadang terasa seperti komedi.
Seorang siswa yang belum lulus sekolah tapi sudah bicara seperti pejabat konferensi internasional.
Mengkritik sambil masih minta uang jajan. Mengajari tentang lingkungan tapi lupa membuang sampah egonya sendiri.
Kita mungkin tersenyum membaca itu.
Namun di balik senyum, ada pelajaran yang dalam.
Bahwa gelar tidak membuat seseorang besar.
Bahwa sorotan bukan berarti kematangan.
Bahwa menjadi viral tidak sama dengan menjadi benar.
Sebuah Cermin untuk Kita Semua
Kisah ini bukan untuk menertawakan. Bukan pula untuk menghakimi. Tetapi untuk menjadi cermin.
Banyak anak muda hari ini berlari mengejar pengakuan, sebelum membangun pondasi. Ingin dikenal, sebelum mengenal diri. Ingin memimpin perubahan, tanpa berubah lebih dulu.
Karena pada akhirnya,
yang menyelamatkan seseorang bukanlah gelar “Tokoh Pemuda”
bukan pula sebutan “Duta” atau “Aktivis” melainkan integritas yang sunyi, yang tetap berdiri bahkan ketika kamera dimatikan.
N/B: Jika ada kesamaan nama, gelar atau alur cerita itu hanya kebetulan saja. Cerita ini hanya hiburan semata.
Tidak ada komentar