Gerakan Pemuda Islam Tapteng Ajak OKP dan Ormas Mahasiswa Tidak Ciptakan Isu Sara

  • Whatsapp
Foto : Tri Budi Arsa Simamora, Sekretaris Gerakan Pemuda Islam (GPI) Kabupaten Tapanuli Tengah.
Foto : Tri Budi Arsa Simamora, Sekretaris Gerakan Pemuda Islam (GPI) Kabupaten Tapanuli Tengah.

Tapanuli Tengah | SinarlintasNews.com – Gerakan Pemuda Islam (GPI) Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menghimbau dan mengajak seluruh organisasi, baik kepemudaan maupun kemahasiswaan untuk tidak menciptakan konflik terkait Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Hal itu disampaikan, Tri Budi Arsa Simamora selaku Sekretaris GPI Tapteng menanggapi aksi damai yang dilaksanakan oleh Gerakan Lintas Pemuda Ormas Mahasiswa dan Masyarakat Tapanuli Tengah, di depan Gedung DPRD Tapteng, yang mencuatkan issu SARA dalam pengangkatan Komisoner Bawaslu Tapteng.

Bacaan Lainnya

“Disini kita menghimbau kepada rekan-rekan, agar tidak mencoba menggiring isu sara di Kabupaten Tapanuli Tengah yang kita cintai ini,  karena itu tidak berguna, karena kita di ikat dengan Pancasila, mari saling menghargai, saling toleransi, kita jangan mudah terprovokasi dengan isu yang dapat merugikan kita semuanya,” kata Tri Budi Arsa yang akrab disapa Benno ini pada Selasa (22/8/23).

Menurutnya, terkait pemilihan dan ditetapkannya komisioner Bawaslu kabupaten Tapanuli tengah yang di anggap bersifat rasis dan tendensius itu tidaklah benar karena untuk menduduki jabatan komisioner itu melalui tahapan dan ujian yang sangat ketat serta tidak menggambarkan adanya rasis dalam proses seleksi tersebut.

“Ketiga putra-putri Tapanuli tengah yang di lantik itu adalah yang terbaik dari hasil seleksi yang ketat, pastinya mereka mengikuti proses seleksi tanpa adanya pertimbangan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan. Soal aturan juga tidak mengharuskan agama tertentu,” jelasnya.

Benno juga sangat menyangka pernyataan dalam aksi yang menyebutkan, bahwa Bawaslu RI dan Bawaslu Sumatera Utara bersifat sangat rasis dan sangat tendensius, hal ini tercermin dimana Bawaslu RI hanya mengakomodir komisioner dari  satu agama dengan mengkesampingkan nilai-nilai kebinekaan dan kemajemukan yang hidup di Kabupaten Tapanuli Tengah.

“Negara kita adalah negara hukum, jika ada ditemukan adanya pelanggaran baiknya ditempuh melalui jalur hukum, jangan dengan cara-cara yang dapat menimbulkan perpecahan ditengah-tengah masyaraka, apa lagi sampai membawa-bawa agama. Masyarakat Tapteng selama ini saling berdampingan dengan baik secara Suku, Agama, Ras, adat dan budaya,” katanya.

Sebagai salah satu Aktivis mahasiswa, Benno juga berharap kedepannya tidak ada lagi kalimat-kaimat yang mengandung isu sara.

“Harapannya tidak ada lagi seperti kejadian hari ini, karena itu dapat menimbulkan kegaduhan dimasyarakat. Mari kita bersatu mejaga Tapteng yang kita cintai ini, dan jangan mudah terprovokasi dengan isu-isu yang belum tentu benar adanya,” pungkasnya.(Jerry).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *