Sembangi Ametro Pandiangan, Gubsu Edy Rahmayadi : Kasus Penculikan Ini Akan Kita Tindaklanjuti

  • Whatsapp

TAPANULI TENGAH | SINARLUNTASNEWS.com – Ratusan orang masyarakat Kelurahan Pargarutan, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menyambut kedatangan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi saat menyempatkan diri menyembangi Ametro Pandiangan korban dugaan Penculikan yang disebut-sebut dilakukan oleh salah satu oknum Brimob ajudan Bupati Tapanuli Tengah.

Gubernur yang tiba dilokasi disambut dengan kain ulos oleh sejumlah masyarakat sebagai lambang kehormatan mereka kepada Edy Rahmayadi yang turun langsung mendengarkan keluhan-keluhan masyarakat.

Selain itu, warga juga membentangkan sejumlah spanduk memohon agar kasus penculikan terhadap Ametro Pandiangan (keponakan mantan Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang) diusut sampai tuntas, sehingga motif dan dalang dibalik penculikan dapat terungkap.

“Tolong kami pak Gubernur, kami merasa ketakutan dengan kasus penculikan ini, pergi ke kebun saja kami merasa takut, kami takut kejadian ini akan terus terjadi. Tolong kami pak, bantulah kami. Apa lagi pelaku penculikan adalah ajudan Bupati kami sendiri pak,” ujar sejumlah ibu-ibu sambil menangis kepada Gubernus Sumatera Utara.

Pada kesempatan itu juga, Edy Rahmayadi mengungkapkan turut prihatin dan berjanji akan menindak lanjuti kasus dugaan penculuikan tersebut.

“Kasus ini akan kita tindaklanjuti, Negara kita negara Hukum,” ungkap Edy Rahmayadi sembari menyalam korban dan masyarakat lainnya.

Tampak dilapangan, Gubernur Sumareta Utara bersama rombongan yang tiba dilokasi sekitar pukul 8.30 WIB mendapat pengawal ketat dari TNI-Polri.

Sebelumnya kasus terjadi pada Jumat (10/1/2020) lalu, Ametro Pandiangan (34) Warga Lingkungan IV Desa Pargarutan, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah dugaan diculik oleh lima orang OTK sekitar pukul 17.30 WIB.

Saat itu, Ametro sedang berdiri dekat pertamini miliknya, lalu dari arah Barus datang satu unit mobil Avanza warna putih parkir tepat depan pertamini milik korban.

Korban yang kesehari-hariannya menjual minyak hampiri mobil tersebut, sebab korban beranggapan mobil tersebut hendak mengisi BBM.

Kemudian dua orang mengenakan masker (penutup wajah) keluar keluar dari dalam mobil lalu beryanya kepada korban, “Kamu Amet Situmeang ya” jawab koban bukan, saya bukan Amet Situmeang,”

Melihat gerak-gerik kedua orang tersebut, Amet merasa dan berusahauntuk pergi, saat itu juga korban langsung di tangkap, meski sempat melawan, namun korban harus pasrah karena ditodongkan pistol dari salah satu orang tersebut yang mengaku Polisi.Korban selanjutnya ditarik dan dimasukkan kedalam mobil.

Menurut keterangan korban, didalam mobil ada tiga orang lainnya juga memakai masker menarik paksa korban masuk kedalam mobil, kemudian diapit dan leher korban dipiting (cekik).

“Saya tidak bisa melawan, karena saya ditodongkan pistol. Kemudian saya di bawa kearah Sibolga. Setibanya di Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapteng, saya dibawa ke belakang Lacky Café sekitar pukul 20.00 WIB kalau tidak salah, disana ada lapangan, lalu saya diturunkan dan disuruh mengeluarkan semua isi kantong saya.

Sayapun keluarkan, di kantong celana sebelah kanan saya ada sedikit uang, itu juga saya keluarkan jatuhkan semua ketanah. Kemuadian saya disuruh membuaka, tapi saya tidak mau, karena saya merasa tidak ada apa-apa saya simpan apapun. Kemudian salah seorang mengambil uang itu, dan berkata apa ini, saya bilang kenapa jadi ada disitu, karena ada dua bungkus kecil serbuk putih, saya bilang itu nsaya tidak tau, itu bukan milik saya.

Saat itu juga saya langsung dipukuli, muka, kepala dipukul, dada ditendang, saya tak mampu melawan, kemuadian saya diborgol.

Selanjutnya, dari tiga dari lima orang itu, pergi entah kemana, ada beberapa lama kemudian mereka kembali. Tak lama kemudian beberapa orang personil Polres Tapteng datang, kemuadian saya langsung dites urine dilokasi itu juga, tapi hasilnya negative.

Setelah itu sayapun dibawa ke Polres Tapteng untuk dimintai keterangan dan di BAP, disana saya jelaskan semuanya tanpa sedikitpun saya sembunyikan.

Setelah saya telusuri saya dapat info kalau yang menagkap saya itu adalah oknum Brimob ajudan Bupati Tapteng.

Saya tidak tau apa motif penculikan saya ini, apakah ini ada factor politik, mengingat hubungan paman saya Raja Bonaran Situmeang yang tak lain mantan Bupati Tapteng memliki hubungan yang tidak baik dengan bupati saat ini, sehingga diperlakukan ini kepada saya.

Mungkin saja kalau seandainya tidak ada orang yang melihat saya pada saat saya di culik itu, saya tidak tau apa yang diperbuat kepada saya. Bisa saja saya dihilangkan untuk selamamnya. Untuk itu saya benar-benar berharap agar kejadian ini segera diungkap kebenarannya,” ujar Ametro.

Ametro mengungkapkan, kasus penculikan tersebut telah dilaporkan ke Polres Tapteng dengan Laporan Polisi No :LP/06/I/2020/RES-TAPTENG melaporkan peristiwa Tindak Pidana “Penculikan dan Penganiayaan”. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.