x

Tapteng Bidik Ekonomi Biru, Bupati Masinton Dorong Pengelolaan Potensi Laut Lebih Agresif

waktu baca 3 menit
Kamis, 9 Jul 2026 16:33 sinarlintas

Tapanuli Tengah | Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) mulai mendorong pengelolaan potensi kelautan secara lebih agresif sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan garis pantai lebih dari 200 kilometer, Tapteng dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan konsep Ekonomi Biru (Blue Economy) menuju Indonesia Emas 2045.

Hal itu mengemuka saat Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, S.H., M.H., menghadiri Studium Generale atau kuliah umum di Kampus Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan (STPK) Matauli Pandan, Kamis (9/7/2026).

Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Positioning Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Matauli serta Alumninya dalam Pembangunan Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan menghadirkan pakar kemaritiman nasional Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., Anggota DPR RI Komisi IV sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004.

Masinton mengatakan, besarnya potensi pesisir Tapteng belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Menurutnya, sektor pertanian dan perikanan masih banyak dikelola secara tradisional sehingga membutuhkan inovasi, teknologi dan penguatan sumber daya manusia.

“Garis pantai Tapanuli Tengah sangat panjang, membentang sekitar 200 kilometer, namun banyak potensi yang belum tergali secara optimal dan belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat,” ujar Masinton.

Karena itu, Pemkab Tapteng berharap terbangun sinergi strategis bersama Yayasan Matauli dan STPK Matauli, khususnya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi kelautan secara modern dan berkelanjutan.

Masinton juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengangkat potensi Tapteng ke tingkat nasional. Salah satunya melalui rencana pengusulan kawasan Tapteng sebagai bagian dari heritage atau warisan sejarah dan budaya yang aktif di jalur Pantai Barat Sumatera.

Sementara itu, Prof. Rokhmin Dahuri menilai Tapteng memiliki modal alam yang sangat besar untuk menjadi salah satu poros ekonomi baru berbasis kelautan.

“Tapanuli Tengah memiliki potensi blue economy yang sangat raksasa karena panjang garis pantainya di sini mencapai lebih dari 200 kilometer,” katanya.

Untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang konkret dalam tiga hingga lima tahun ke depan, Prof. Rokhmin menyarankan Pemkab Tapteng memprioritaskan tiga sektor.

Pertama, perikanan budidaya laut, terutama komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti lobster, udang vaname dan rumput laut.

Kedua, hilirisasi industri perikanan tangkap. Menurutnya, aktivitas penangkapan ikan harus diikuti pembangunan industri pengolahan agar hasil laut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah dan mampu bersaing di pasar global.

Ketiga, pariwisata bahari kelas dunia. Keindahan alam Tapteng dinilai sudah menjadi modal utama, namun perlu diperkuat dengan fasilitas penunjang, penataan destinasi, aksesibilitas serta konektivitas.

Prof. Rokhmin bahkan mendorong agar potensi wisata bahari Tapteng dikembangkan dengan standar destinasi kelas dunia seperti Maladewa atau Maldives.

Sinergi antara pemerintah daerah, STPK Matauli, dunia usaha dan masyarakat diharapkan mampu mengubah potensi laut Tapteng menjadi kekuatan ekonomi baru yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan mempercepat terwujudnya kesejahteraan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan Matauli Pandan yang mewakili Ketua Pembina Yayasan Matauli Pandan, perwakilan Forkopimda Tapteng, Wakil Ketua DPRD Tapteng, Ketua STPK Matauli, para asisten dan staf ahli, Plh. Kepala Dinas Kelautan Tapteng, Plh. Kepala Bappeda Tapteng, dosen, mahasiswa STPK Matauli serta tamu undangan lainnya.(Jerry).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x