Foto: Ibu-ibu warga setempat di area lokasi cafe-cafe di Kelurahan Sihaporas Nauli. Sinarlintasnews.com | Sejumlah warga Kelurahan Sihaporas Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, menyampaikan keberatan terhadap beredarnya video perselisihan terkait keberadaan sejumlah kafe di lingkungan mereka. Warga menilai, polemik yang mencuat di media sosial tersebut telah berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari ramainya pengunjung di kawasan itu.
Mengawati Purba (38), warga setempat, mengungkapkan bahwa suasana berjualan yang sebelumnya cukup ramai kini mulai terasa sepi setelah video tersebut beredar. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak langsung terhadap pendapatan warga yang sehari-hari berjualan makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Sejak video itu beredar, kami merasakan dampaknya. Kami yang berjualan makanan ikut terkena imbasnya karena suasana menjadi lebih sepi. Padahal, kami hanya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Mengawati, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, keberadaan kafe-kafe di kawasan tersebut selama ini turut menggerakkan perekonomian warga. Ramainya pengunjung menjadi peluang bagi masyarakat sekitar untuk membuka usaha kuliner, mulai dari menjual sate, ayam penyet, hingga berbagai makanan lainnya.
Ia juga mempertanyakan alasan keberatan yang baru mencuat setelah kawasan tersebut berkembang menjadi tempat usaha dan aktivitas masyarakat.
“Kalau memang sejak awal keberadaan kafe dianggap bermasalah, seharusnya hal itu dibicarakan baik-baik sejak dahulu. Mengapa baru sekarang dipersoalkan, sementara masyarakat di sini sudah lama beraktivitas dan mencari nafkah?” katanya.
Meski demikian, Mengawati menegaskan bahwa warga tidak serta-merta membiarkan seluruh aktivitas kafe berjalan tanpa pengawasan. Masyarakat, kata dia, tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan akan menyampaikan teguran apabila ditemukan aktivitas yang dinilai tidak sesuai dengan norma atau mengganggu ketertiban.
“Kami juga mengawasi keberadaan kafe-kafe ini. Kalau ada yang tidak sesuai atau mengganggu lingkungan, tentu bisa kami tegur. Jadi, bukan berarti kami membiarkan begitu saja. Yang penting, semuanya berjalan dengan tertib dan saling menghormati,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Irma (38), warga lainnya. Ia mengaku tidak merasa keberatan dengan keberadaan kafe-kafe tersebut selama aktivitasnya berlangsung secara tertib dan tidak mengganggu masyarakat sekitar.
Menurut Irma, keramaian di kawasan itu justru membuka kesempatan bagi warga untuk memperoleh penghasilan tambahan. Tidak sedikit pedagang yang memanfaatkan ramainya pengunjung untuk menjajakan makanan, bahkan ada pedagang dari Kota Sibolga yang datang berjualan di kawasan tersebut.
“Kami sebenarnya tidak keberatan dengan keberadaan kafe-kafe itu. Kami tidak merasa terganggu. Justru banyak warga yang mendapat keuntungan karena dagangan mereka menjadi lebih laris,” ujar Irma.
Ia menyebutkan, keberadaan tempat usaha tersebut telah menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat kecil. Bagi para pedagang, keramaian bukan sekadar suasana yang menyenangkan, melainkan sumber penghasilan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, dan kebutuhan hidup sehari-hari.
“Di sini ada yang berjualan sate, ayam penyet, dan berbagai makanan lainnya. Bahkan, ada juga pedagang yang datang dari Sibolga untuk berjualan di sini. Artinya, kawasan ini memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin mencari rezeki secara halal,” tuturnya.
Irma juga menilai bahwa aktivitas masyarakat yang ramai membuat lingkungan lebih hidup. Ia mengungkapkan bahwa selama ini warga merasakan kondisi lingkungan yang relatif aman, meskipun penilaian tersebut merupakan pengalaman warga setempat.
“Selama ini lingkungan kami ramai dan kami merasa lebih aman. Karena itu, kami berharap jangan sampai persoalan yang terjadi membuat masyarakat kecil kehilangan mata pencaharian. Kalau ada masalah, mari dibicarakan dengan baik,” katanya.
Bagi masyarakat Sihaporas Nauli, persoalan keberadaan kafe bukan hanya menyangkut perbedaan pendapat, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan ekonomi warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan di sekitarnya.
Di balik setiap piring makanan yang terjual, ada keluarga yang berharap memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pedagang yang menyiapkan dagangan sejak pagi, ada ibu rumah tangga yang berusaha membantu ekonomi keluarga, dan ada masyarakat yang memanfaatkan peluang usaha demi mempertahankan kehidupan.
Karena itu, warga berharap persoalan yang berkembang tidak serta-merta menimbulkan penilaian negatif terhadap seluruh kafe maupun masyarakat di lingkungan tersebut. Mereka menginginkan agar setiap persoalan diselesaikan secara proporsional, dengan mengedepankan dialog, bukti, dan kepentingan bersama.
Warga juga memahami bahwa keberadaan tempat usaha harus berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga ketertiban, kenyamanan, dan norma yang berlaku. Apabila terdapat pelanggaran atau aktivitas yang meresahkan, persoalan tersebut sebaiknya disampaikan kepada pihak terkait agar dapat ditangani sesuai ketentuan.
Sebaliknya, apabila aktivitas usaha berjalan tertib dan memberikan manfaat bagi masyarakat, keberadaannya diharapkan tidak menimbulkan prasangka yang merugikan banyak pihak.
“Jangan karena persoalan satu orang, semua warga ikut merasakan akibatnya. Kami hanya ingin hidup tenang, berjualan, dan mencari nafkah. Kalau ada yang salah, mari dibicarakan baik-baik. Jangan sampai masyarakat kecil yang justru menjadi korban,” harap Mengawati.
Warga berharap masyarakat luas dapat melihat persoalan ini secara berimbang, tidak hanya dari satu sisi atau potongan video yang beredar di media sosial. Mereka mengajak semua pihak untuk mengedepankan sikap saling menghormati, menjaga ketenangan lingkungan, serta melindungi ruang usaha masyarakat kecil.
Bagi warga Sihaporas Nauli, kerukunan dan kesempatan mencari nafkah merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Perbedaan pendapat seharusnya menjadi pintu untuk mencari solusi, bukan menjadi alasan untuk memperkeruh suasana hingga berdampak pada kehidupan masyarakat yang lebih luas. (Red).
Tidak ada komentar