x

“Jangan Berhenti di Keroco!” Polrestabes Medan Didesak Ungkap Aktor Penyerangan Rumah Fadhil Thoib Hutagalung

waktu baca 4 menit
Kamis, 17 Sep 2026 19:01 sinarlintas

Medan| Penyerangan terhadap kediaman mantan calon Wali Kota Sibolga, Muhammad Fadhil Thoib Hutagalung, di wilayah Medan kembali menjadi sorotan. Polrestabes Medan didesak tidak berhenti pada pengungkapan pelaku lapangan, tetapi juga menelusuri motif serta kemungkinan adanya pihak lain yang berada di balik aksi tersebut.

Desakan itu disampaikan Ketua Cahaya Kemenangan Prabowo Sumut, Jauli Manalu, menyusul insiden yang terjadi pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 03.25 WIB.

Berdasarkan rekaman CCTV, sejumlah pria dengan menggunakan sepeda motor terlihat mendatangi kawasan kediaman Fadhil. Dalam rekaman tersebut, pelaku kemudian melakukan aksi penyerangan dengan melempar benda ke arah rumah dan kendaraan.

Jauli menilai perkara tersebut harus ditangani secara serius karena insiden serupa disebut bukan kali pertama terjadi.

Sebelumnya, pada 29 Oktober 2023 sekitar pukul 09.32 WIB, kediaman Fadhil juga pernah menjadi sasaran aksi yang disebut melibatkan pembakaran. Peristiwa tersebut sebelumnya telah dilaporkan ke Polsek Helvetia.

“Ini bukan lagi peristiwa yang bisa dianggap sebagai kejadian biasa. Sudah dua kali terjadi dengan modus yang berbeda. Karena itu, polisi harus mengungkap siapa pelakunya, apa motifnya, dan kalau memang ada pihak yang menyuruh, harus diungkap juga,” kata Jauli, Kamis (17/9/26).

Menurut Jauli, kejadian terakhir telah dilaporkan kepada Polrestabes Medan dengan disertai bukti rekaman CCTV. Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan bagi aparat untuk tidak mengembangkan penyelidikan.

“Rekaman CCTV itu merupakan petunjuk awal. Jangan hanya dilihat sebatas siapa orang yang terekam di depan rumah. Polisi harus mengembangkan penyelidikan, mencari jalur kedatangan dan kepulangan pelaku, kendaraan yang digunakan, serta CCTV lain di sekitar lokasi,” ujarnya.

Jauli juga meminta penyidik melakukan penelusuran di sekitar Jalan Merpati, Kecamatan Medan Sunggal, khususnya pada rentang waktu sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 WIB ketika aksi terakhir terjadi.

Ia mendorong penyidik mengoptimalkan bukti digital dan forensik yang sah untuk mengidentifikasi pergerakan pelaku, termasuk menghubungkan rekaman CCTV dari sejumlah titik yang mungkin dilalui para pelaku.

“Sekarang semuanya serba digital. CCTV ada di rumah, CCTV ada di jalan. Tinggal bagaimana penyidik bekerja menghubungkan satu petunjuk dengan petunjuk lainnya. Kalau memang ada komunikasi atau pergerakan yang bisa ditelusuri secara hukum, silakan dikembangkan. Jangan berhenti hanya pada rekaman satu kamera,” tegasnya.

Jauli menduga berulangnya penyerangan terhadap kediaman Fadhil patut menjadi perhatian serius. Ia menduga aksi tersebut berpotensi merupakan tindakan yang telah direncanakan.

Namun, menurutnya, dugaan mengenai adanya aktor intelektual harus dibuktikan melalui penyelidikan dan penyidikan berdasarkan alat bukti.

“Peristiwa ini kita duga kuat bukan sekadar kejadian spontan. Kalau benar ada perencanaan, tentu harus dibuktikan. Polisi harus mengungkap motifnya. Apakah ada tekanan, intimidasi, atau kepentingan tertentu. Jangan membuat kesimpulan sebelum bukti ditemukan,” katanya.

Ia meminta aparat tidak hanya mengejar eksekutor lapangan.

“Boleh tangkap pelaku, tapi ungkap aktor intelektualnya. Ungkap motifnya. Kasihan kalau yang ditangkap hanya keroco yang menjalankan perintah. Pertanyaannya, kalau memang dia disuruh, siapa yang menyuruh? Siapa bosnya? Itu yang harus diungkap Kapolrestabes Medan,” tegas Jauli.

Menurutnya, dugaan adanya upaya intimidasi juga perlu didalami karena kejadian terhadap Fadhil disebut telah berlangsung dua kali dalam rentang waktu berbeda.

“Kalau memang ini sebuah upaya intimidasi, maka harus dihentikan. Hari ini mungkin korbannya Fadhil, tetapi kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin besok terjadi kepada orang lain. Karena itu, polisi harus mengungkap sampai ke akar persoalannya,” ujarnya.

Jauli juga mengingatkan agar penyidikan tidak berakhir hanya dengan penangkapan pelaku lapangan dan alasan yang tidak menjawab pertanyaan mengenai motif.

“Kalau kepolisian ogah-ogahan mengeluarkan tajinya, penelusuran ini akan buntu pada rekaman CCTV rumah dan perburuan eksekutor lapangan. Ujung-ujungnya bisa saja muncul alasan iseng atau alasan nyeleneh lainnya. Kalau itu benar-benar terjadi, saya meyakini kejadian seperti ini bisa terulang kembali,” katanya.

Ia bahkan mempertanyakan keseriusan Kapolrestabes Medan dalam mengungkap kasus tersebut.

“Sekarang Kapolrestabes Medan punya taji atau tidak? Tidak ada yang sulit untuk mengungkap kasus seperti ini. Semua serba digital. CCTV ada di rumah, CCTV juga ada di jalan. Tinggal bagaimana polisi mau bekerja dan mengembangkan penyelidikan,” tegas Jauli.

“Jangan sampai polisi hanya berhenti pada pelaku lapangan. Tangkap pelakunya, tetapi ungkap juga siapa yang menyuruh dan apa motifnya. Kasihan kalau yang ditangkap hanya keroconya, sementara bosnya tidak tersentuh. Itu yang harus dijawab Kapolrestabes Medan,” sambungnya.

Jauli menegaskan, apabila penyelidikan hanya berhenti pada rekaman CCTV rumah dan pelaku lapangan tanpa mengungkap motif maupun pihak lain yang mungkin terlibat, maka potensi terulangnya kejadian serupa tetap terbuka.

“Kalau polisi tidak mau mengeluarkan tajinya, penyelidikan akan buntu pada eksekutor lapangan. Nanti ujung-ujungnya bisa saja muncul alasan iseng atau alasan nyeleneh lainnya. Kalau itu terjadi, saya khawatir kejadian serupa akan terulang lagi. Sekarang pertanyaannya sederhana: Kapolrestabes Medan punya taji atau tidak?” ujar Jauli.

“Kalau memang tidak mau bekerja maksimal, ya jangan menjadi polisi. Polisi itu diberikan kewenangan untuk mengungkap perkara dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat justru bertanya-tanya karena kasus yang sudah berulang tidak diungkap sampai ke akar-akarnya,” pungkasnya.

Peristiwa ini tertuju pada langkah Polrestabes Medan dalam menangani laporan tersebut. Pengungkapan pelaku, motif, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain menjadi bagian penting untuk memastikan kasus penyerangan terhadap kediaman Fadhil tidak berhenti sebatas siapa eksekutor di lapangan. (Jerry).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x