x

Dituding Jual Tanah Uruk, DP Membantah: Saya Cegah Longsor, Bukan Cari Keuntungan Seperti CV. Napogos

waktu baca 4 menit
Senin, 17 Agu 2026 23:41 sinarlintas

Tapanuli Tengah | membantah tudingan yang menyebut dirinya menjalankan aktivitas galian C secara komersial di Kelurahan Bonan Lumban, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Ia menegaskan, pengerukan tanah di lokasi tersebut bukan untuk diperjualbelikan, melainkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi longsor yang dapat mengancam bangunan dan keselamatan warga.

Klarifikasi itu disampaikan DP menyusul pemberitaan sejumlah media online yang mengaitkan aktivitas pengerukan tanah di kawasan tersebut dengan usaha jual beli tanah uruk.

“Tidak ada usaha komersial. Tanah yang kita keruk itu untuk mengamankan bangunan dari kemungkinan longsor. Tanahnya berada tepat di belakang bangunan,” ujar DP, Senin (17/8/2026).

Menurutnya, kondisi tanah yang berada di belakang bangunan, ditambah curah hujan yang tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir, menjadi alasan dilakukannya pengerukan. Terlebih, Kabupaten Tapanuli Tengah dalam beberapa waktu terakhir beberapa kali dilanda banjir dan tanah longsor.

DP juga membantah apabila material hasil pengerukan diperjualbelikan.

“Kita tidak ada melakukan penjualan. Tanah yang kita keruk kita berikan kepada masyarakat. Kalau ada yang membayar, itu bukan kepada kami, tetapi kepada sopir truk karena truk yang mengangkut tanah juga membutuhkan BBM,” jelasnya.

Ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan aktivitas pengurukan tanah yang sejak awal dijalankan sebagai kegiatan usaha komersial.

DP kemudian menyinggung aktivitas CV Napogos Berkarya Jaya di Jalan Surbakti yang menurutnya merupakan kegiatan usaha jual beli tanah uruk.

“Kalau memang mau menertibkan usaha galian C, silakan ditertibkan yang memang jelas-jelas menjalankan usaha. Salah satunya seperti usaha CV Napogos Berkarya Jaya di Jalan Surbakti. Itu memang kegiatan usaha jual tanah uruk dan sudah beroperasi bertahun-tahun,” katanya.

Terkait legalitas perusahaan tersebut, DP mengaku memperoleh informasi yang perlu ditindaklanjuti mengenai dugaan belum dimilikinya izin lingkungan hidup.

“Yang saya dengar, kegiatan itu belum memiliki izin lingkungan hidup. Kalau memang benar, silakan diperiksa dan ditindak sesuai aturan. Jangan justru menggiring opini seolah-olah kegiatan saya sama dengan usaha galian C komersial,” ujarnya.

Selain membantah tudingan galian C komersial, DP juga menyangkal pemberitaan yang menyebut dirinya melakukan intimidasi terhadap pihak yang melakukan konfirmasi jurnalistik.

Ia menjelaskan, persoalan tersebut bermula ketika seseorang menghubunginya melalui telepon dan mengajaknya bertemu. DP mengaku sempat menolak karena tidak mengetahui identitas orang tersebut dan pihak yang menghubungi tidak memperkenalkan diri secara jelas sejak awal.

“Setelah percakapan cukup panjang melalui telepon, orang tersebut kemudian mengaku sebagai wartawan. Saya mempertanyakan apakah seperti itu cara seorang wartawan melakukan konfirmasi,” katanya.

DP menegaskan dirinya tidak menolak proses konfirmasi. Bahkan, beberapa jam setelah komunikasi melalui telepon, sejumlah orang yang mengaku sebagai jurnalis datang menemuinya.

“Ketika teman-teman datang, saya sudah memberikan klarifikasi. Apa yang disampaikan saat itu sudah kami bicarakan dan saya anggap persoalannya sudah clear,” ujarnya.

Ia juga membantah membawa-bawa institusi TNI ataupun melakukan intimidasi.

“Tidak benar ada intimidasi atau membawa institusi TNI. Kalau ada kata-kata yang dianggap demikian, itu karena selip kata dan sudah saya klarifikasi dalam pertemuan. Saya rasa persoalan itu sudah selesai,” katanya.

Mengenai pemberian sejumlah uang kepada pihak yang datang menemuinya, DP membantah uang tersebut berkaitan dengan upaya menyuap atau memengaruhi pemberitaan.

Menurutnya, uang tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atau uang minum karena mereka telah datang dan berbicara dengannya.

“Saya menghargai teman-teman itu. Saya memberikan sedikit uang minum, bukan untuk menyuap. Saya juga mempunyai banyak teman yang berprofesi sebagai wartawan,” katanya.

Namun, DP mengaku keberatan apabila kemudian terdapat permintaan uang dengan nilai lebih besar. Ia menilai kondisi tersebut dapat menimbulkan persepsi adanya upaya menekan dirinya.

“Saya merasa ada upaya menekan saya untuk memberikan nilai yang lebih tinggi. Kalau memang seperti itu, saya mempertanyakan tujuannya. Jangan mengatasnamakan pers kemudian digunakan untuk mendulang keuntungan,” ujarnya.

DP menegaskan, pernyataan tersebut merupakan versinya atas persoalan yang terjadi dan masih perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak lain yang disebut agar pemberitaan tetap berimbang.

Merasa dirugikan oleh pemberitaan yang menurutnya tidak menggambarkan hasil klarifikasi secara utuh, DP menyatakan akan menempuh mekanisme melalui Dewan Pers.

“Saya akan melaporkan persoalan ini kepada Dewan Pers. Karena setelah saya memberikan klarifikasi, justru muncul pemberitaan dengan narasi yang menurut saya merugikan dan tidak sesuai dengan apa yang sudah disampaikan,” katanya.

DP menyatakan tidak keberatan apabila aktivitas pengerukan di lokasi tersebut diperiksa pihak berwenang. Ia bahkan mengaku siap memberikan penjelasan mengenai status bangunan maupun tanah di lokasi.

“Dari awal ketika dikonfirmasi, saya sudah menjelaskan bahwa bangunan itu milik saya dan tanahnya milik rekan saya. Pertanyaan yang diajukan juga sudah saya jawab. Karena itu saya merasa dirugikan ketika kemudian muncul tudingan bahwa saya menjalankan usaha galian C,” katanya.

Ia berharap persoalan tersebut dapat dilihat berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku, bukan melalui asumsi maupun narasi sepihak.

“Saya tidak pernah keberatan dikonfirmasi. Silakan lakukan tugas jurnalistik sesuai aturan. Tetapi jangan menggiring opini dan jangan memelintir pernyataan yang sudah diklarifikasi. Kalau ada persoalan, mari diselesaikan berdasarkan fakta dan mekanisme yang berlaku,” pungkasnya. (Edy).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x