Tapanuli Tangah | Situs Bongal yang berada di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) merupakan petunjuk sejarah baru masuknya Islam ke Indonesia yang menarik untuk dibahas dan dilakukan kajian lebih mendalam.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu menyebutkan, Situs Bongal harus terus diperdalam untuk memperkaya khasanah sejarah peradaban Islam. Penemuan koin Umayyah di Situs Bongal kemungkinan besar berkaitan dengan perdagangan dan pelayaran karena lokasinya tidak jauh dari Barus.
“Ini juga menunjukkan interaksi intensif antara masyarakat nusantara dengan masyarakat Islam dari pusat dunia Islam saat itu seperti Arab dan Persia. Di lokasi tersebut terdapat Sungai Lumut yang bermuara ke Teluk Tapian Nauli. Teluk itu dinilai strategis untuk melabuhkan kapal-kapal dari zaman dulu hingga sekarang. Ada pula Samudra Hindia di sebelah barat situs,” kata Masinton.

Dari sejumlah temuan arkeologis di situs Bongal. Beberapa di antaranya adalah keramik yang berasal dari Dinasti Tang (abad ke-7 hingga ke-9 M), fragmen tembikar, jarum logam, dan ijuk. Peneliti juga menemukan mangga, pinang, pala, dan kemiri yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-10 M.
Ada pula wadah dan botol kaca (alembic) yang dulu digunakan untuk menyuling minyak. Botol serupa pernah ditemukan di Timur Tengah dan kini disimpan di museum di New York, Amerika Serikat.
”Ada koin perak Dinasti Umayyah yang diprediksi berasal dari tahun 694-713 M. Ada pula koin dari Dinasti Abbasiyyah pada tahun 760 M. Secara garis besar, koin-koin yang ditemukan berasal dari abad ke-7 hingga ke-9 M. ada juga meliputi jalinan ijuk dari abad ke-7 hingga ke-8 M. Fadhlan menambahkan, pihaknya menemukan struktur kayu nibung. Namun, belum bisa dipastikan apa itu struktur rumah hunian atau dermaga. Ada pula temuan berupa sisa perahu dan anak timbangan,” jelasnya.
Masinton Pasaribu menjelaskan, penemuan situs Bongal menjadi jendela berharga untuk memahami bagaimana interaksi budaya dan perdagangan berlangsung di masa lalu. Masinton juga berharap agar penelitian terus dilakukan untuk mengungkap jejak sejarah perdagangan rempah-rempah kuno di wilayah Samudra Hindia sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang sejarah perdagangan dunia dan peran penting wilayah Indonesia dalam sejarah perdagangan rempah-rempah.
Dalam konteks Lingkungan Geologi, di Situs Bongal terdapat sumber daya mineral yakni emas. Aktivitas pertambangan masyarakat di Desa Jago-jago pula yang kemudian membongkar keberadaan Situs Bongal.
Dalam kunjungan Masinton Pasaribu bersama Wakilnya, Mahmud Efendi ke Situs Bongal, didampingi Peneliti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Sultanate Institute dan Tim, Kami datang kesini untuk berkunjung ke Museum Fansuri tempat disimpannya barang barang perdagangan dimasa lalu Situs Bongal Sijago-jago Kecamatan Badiri ini.
“Temuan sejarah ini menjadi penting dalam konteks peradaban, kebudayaan di Nusantara begitupun dengan rempah Nusantara pedagang atau saudagar dari berbagai dunia sudah melakukan interaksi perdagangan di daerah ini dan sudah terjadi cukup lama, ini membuat di wilayah Tapanuli Tengah khususnya di kawasan Badiri Sijago-jago, kemudian daerah Barus terkenal sebagai Pusat Peradaban Nusantara ditandai lagi dengan pada tahun 2017 yang lalu, Presiden RI Joko Widodo telah meresmikan Titik Nol Islam di Nusantara tepatnya di Kecamatan Barus,” Katanya, Sabtu (24/5/25)
Selain itu, Masinton menyatakan telah melakukan koordinasi langsung by Phone dengan Fadli Zon Menteri Kebudayaan RI dan antusiasmenya terhadap situs Bongal.
“Pak Mentri mengundang Kita ke Jakarta untuk menyampaikan Hasil penelitian dari peneliti Situs Bongal Sijago-Jago dan Barus Tapanuli Tengah,” Kata Masinton.(Jerry).






