Tapanuli Tengah | Pemerintah Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, menggelar Festival Seni Budaya Sikambang sebagai upaya nyata melestarikan warisan budaya lokal yang kian tergerus oleh perkembangan zaman. Seni budaya Sikambang yang selama ini menjadi identitas masyarakat pesisir pantai barat Sumatera Utara, kini mulai jarang ditampilkan dan dikenal, khususnya oleh generasi muda, Sabtu (10/1/26).
Kepala Desa Jago-jago, Laili Fitri Purba menyatakan, Festival ini menjadi ruang ekspresi sekaligus pengingat akan kekayaan budaya leluhur yang sarat nilai sejarah, kebersamaan, dan kearifan lokal. Melalui pertunjukan tari, musik, dan nyanyian khas Sikambang, masyarakat diajak kembali mengenal akar budaya mereka yang hampir punah akibat minimnya regenerasi dan pengaruh budaya luar.
Yang kita tampilkan hari ini ada tarian sapu tangan, tarian ini menggambarkan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, tamu maupun pejabat.
Kemudian tari anak, ini menggambarkan keharmonisan kelurga suami istri yang menginginkan anak.
Tari Payung, tarian ini merupakan simbol Kasih Sayang dan Perlindungan
Payung melambangkan perlindungan, tanggung jawab, dan kasih sayang, terutama dari seorang laki-laki kepada perempuan. Ini menggambarkan peran suami atau pasangan yang melindungi dan menjaga keluarganya dari berbagai tantangan hidup.
Harmoni dalam Kehidupan Rumah Tangga
Gerakan lembut dan berpasangan mencerminkan keharmonisan, kebersamaan, serta keseimbangan dalam hubungan suami istri atau pasangan hidup.
Tari selendang, tarian ini mengibaratkan Selendang sebagai simbol perasaan dan ikatan
Selendang melambangkan kehalusan budi, perasaan kasih sayang, serta ikatan hubungan antarmanusia. Gerakan selendang yang lembut menggambarkan komunikasi batin, kerinduan, dan keharmonisan sosial.
Cerminan kehidupan masyarakat pesisir.
Gerak tari yang mengalun dan dinamis mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir yang dekat dengan laut—kadang tenang, kadang bergelora—namun tetap harmonis dan penuh semangat
Kepala Desa Jago-jago menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi langkah awal membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap seni budaya daerah. Pemerintah desa berkomitmen menjadikan Festival Seni Budaya Sikambang sebagai agenda rutin, sekaligus sarana edukasi budaya bagi anak-anak dan generasi muda di wilayah pesisir.
Laili juga berharap pemerintah dapat mendukung membangkitkan kembali seni budaya yang selama ini sudah sangat terlupakan terlebih generasi genz. Dan mengajak masyarakat untuk membangkitkan kembali seni budaya sikambang.
Tarian budaya Sikambang ini merupakan warisan para leluhur yang harus kita implementasikan kepada generasi kita,
Antusiasme masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa seni budaya Sikambang masih memiliki tempat di hati warga. Dengan dukungan semua pihak, festival ini diharapkan mampu menjaga eksistensi Sikambang agar tetap hidup, berkembang, dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai jati diri masyarakat pesisir pantai barat Sumatera Utara. (Jerry).






