Sinarlintasnews.com | Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada Jumat pagi (23/5/2025). Hal itu dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS yang memburuk.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.14 WIB di pasar spot exchange, Rupiah hari ini menguat sebesar 3 poin (0,02%) ke level Rp 16.324,5 per dolar AS. Sedangkan pada perdagangan Kamis (22/5/2025), mata uang rupiah ditutup perkasa 71 poin (0,43%) ke level Rp 16.327,5 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar terpantau turun 0,27 poin menjadi 99,6. Sedangkan imbal hasil obligasi AS 10 tahun terlihat naik 12 poin di level 4,52%.
Dikutip dari Reuters, nilai tukar dolar AS melemah pada perdagangan Jumat (23/5/2025), mencatatkan penurunan mingguan pertama dalam lima pekan terakhir terhadap euro dan yen. Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS yang memburuk, mendorong mereka beralih ke aset safe haven.
Kondisi ini terjadi tak lama setelah lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan peringkat utang AS. Perhatian pasar kini tertuju pada tumpukan utang AS yang telah menembus US$36 triliun, serta RUU pajak yang didorong Presiden Donald Trump yang berpotensi menambah utang triliunan dolar lagi.
RUU yang oleh Trump dijuluki sebagai “big, beautiful bill” itu telah lolos tipis di DPR AS yang dikuasai Partai Republik dan kini memasuki pembahasan di Senat yang diperkirakan berlangsung selama beberapa pekan.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama termasuk euro dan yen, tercatat melemah 1,1% sepanjang pekan ini. Pada perdagangan awal Asia, indeks berada di level 99,829, nyaris tak berubah dibanding sesi sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami lonjakan tajam di awal pekan. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun tetap berada di atas 5% pada Jumat pagi waktu Asia, mendekati level tertinggi 19 bulan. Jika menembus 5,179%, puncak Oktober 2023, maka akan menjadi yang tertinggi sejak pertengahan 2007.
Namun, lonjakan imbal hasil ini justru tak mampu menopang dolar. Investor justru ramai-ramai keluar dari aset AS dalam aksi yang disebut sebagai ‘Sell America’.
“Yang sangat mencolok minggu ini adalah reaksi pasar terhadap kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang AS,” ujar Kepala Riset Pepperstone Chris Weston.
Menurut Weston, kenaikan imbal hasil ini bukan karena prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik, melainkan karena kekhawatiran atas pengelolaan fiskal yang sembrono, pengeluaran defisit yang membengkak, dan persepsi biaya bunga yang terus meningkat.
“Jika ditambah dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, maka hasil akhirnya adalah lonjakan premi risiko jangka panjang (‘term premium’) yang membuat investor asing enggan masuk pasar,” ujarnya.
Di sisi lain, euro menguat 0,21% menjadi US$1,1303 di awal perdagangan dan mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,2%.
Yen Jepang juga stabil di posisi 143,84 per dolar dan mencatat kenaikan mingguan serupa sebesar 1,2%. Penguatan ini didukung oleh data inflasi inti Jepang yang meningkat ke level tertinggi dalam dua tahun pada April, membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank of Japan (BoJ) sebelum akhir tahun.
“Inflasi Jepang yang kembali kuat bukan hal mengejutkan. Ini berpotensi menambah tekanan di pasar obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor panjang,” kata Krishna Bhimavarapu, ekonom kawasan Asia Pasifik di State Street Global Advisor.
Sementara itu, franc Swiss turut menguat tipis menjadi 0,8272 per dolar AS dan mencatat kenaikan 1,2% dalam sepekan, mengakhiri tren penurunan selama dua pekan sebelumnya.
(Sumber: investor.id)





