Tapanuli Tengah – Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, secara resmi membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Tapanuli Tengah yang digelar di Gedung Olahraga Pandan, Selasa (14/4/2026). Kegiatan ini dihadiri seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, unsur Forkopimda termasuk Dandim, serta perwakilan dari Kejaksaan Negeri Sibolga.
Dalam sambutannya, Masinton menegaskan bahwa Musrenbang kali ini menjadi momentum penting untuk membangun kembali Tapanuli Tengah pascabencana melalui pendekatan baru yang disebut model pembangunan “sahata saoloan”, yakni pembangunan berbasis kolaborasi dan gotong royong.
Ia juga menyampaikan duka cita atas bencana yang melanda daerah tersebut. “Bukan hanya kerugian harta benda, tetapi kita juga kehilangan sanak saudara. Atas nama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, kami menyampaikan duka cita yang mendalam,” ujarnya, Selasa (14/4).
Masinton turut mengakui bahwa pelayanan pemerintah pascabencana belum sepenuhnya optimal. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang masih menunggu bantuan dan perbaikan. “Kami menyadari masih ada masyarakat yang belum tersentuh. Ini menjadi tanggung jawab kami untuk bekerja lebih cepat, lebih peka, dan lebih hadir di tengah masyarakat,” katanya.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan perencanaan, tetapi juga tindakan nyata. Oleh karena itu, Musrenbang tidak sekadar menyusun program, melainkan menjadi titik awal kebangkitan daerah menuju pembangunan yang lebih tangguh, adil, dan berpihak kepada masyarakat terdampak.
Masinton menekankan pentingnya perubahan paradigma pembangunan, dari pola lama menuju pendekatan berbasis data, kinerja, serta dampak nyata bagi masyarakat. Ia mengungkapkan masih lemahnya sistem birokrasi, mulai dari belum optimalnya reformasi birokrasi, rendahnya penerapan sistem pemerintahan berbasis elektronik, hingga minimnya evaluasi pelayanan publik.
“Kita tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama. Program tidak boleh sekadar rutinitas administratif, tetapi harus terukur, berdampak, dan bermanfaat langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya integrasi antar-OPD, penguatan akuntabilitas, serta efisiensi anggaran dengan mengalihkan belanja yang tidak produktif ke program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Melalui model “sahata saoloan”, Masinton mengajak seluruh pemangku kepentingan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga komunitas untuk bersinergi dalam pembangunan. Model ini menekankan pembangunan berbasis kebutuhan riil masyarakat, pemerataan, serta keberlanjutan lingkungan dan ketahanan bencana.
“Bersama kita lebih kuat. Kolaborasi adalah kunci kebangkitan Tapanuli Tengah. Kita ingin memastikan pemulihan tidak hanya memperbaiki yang rusak, tetapi membangun masa depan yang lebih kuat,” pungkasnya.(red).






