Potensi Pengembangan Ikan Batak/ Sumera (Neolissochilus thienemanni, Ahl 1933 dan Tor sp) di Kabupaten Tapanuli Tengah

  • Whatsapp
Ahya Gusnur Purba, Mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli

Ikan Batak (Neolissochilus thienemanni, Ahl 1933,Gambar 1, dan Tor sp) atau lebih dikenal dengan Ikan Sumera di Tapanuli Tengah digunakan sebagai makanan para raja (pada saat ini, ikan Batak dimakan oleh pejabat daerah untuk pesta/ pertemuan) dan untuk upacara perkawinan sebagai sesembahan (upa-upa) kepada Tuhan yang diberikan oleh pihak isteri kepada pihak suami.

Adapun orangtua memberikan hidangan ikan Batak kepada anaknya yang ingin melanjutkan kuliah, dengan harapan Tuhan selalu memberikan
kesehatan, keberhasilan dan diberkati disetiap langkahnya. Adapun kepercayaan yang timbul dikalangan masyarakat bahwa ikan ini tidak boleh ditangkap karena akan mendatangkan musibah.

Bacaan Lainnya

Gambar 1. Ikan Batak (Neolissochilus thienemanni, Ahl 1933) yang berasal dari Danau Toba dan Hulu Sungai Asahan.

Kepercayaan masyarakat dalam hal ini masih sangat kental, akan tetapi ikan ini sudah sulit di dapat dan memiliki harga yang sangat mahal Rp, 300.000-700.000/ekor. Oleh masyarakat setempat ikan Batak tidak langsung dijual, melainkan di simpan sampai diadakannya penyelenggaraan upacara adat.

Ikan Batak atau lebih populer disebut “ihan Batak” (Gambar 2 A&B) yang
terdistribusi di air deras dan dijumpai di upacara-upacara adat sebagai syarat terlaksananya kegiatan adat tersebut (Zairin et al., 2005). Ikan ini termasuk famili Cyprinidae (satu keluarga dengan ikan mas) yang merupakan ikan omnivora (pemakan segala) dan hidup di sungai beraliran deras.

Ikan ini biasa hidup di sungai yang berpasir maupun berbatu, dengan suhu yang relatif rendah (16-26oC), berair jernih, pH (keasaman air) netral dengan stabilitas perairan yang baik serta memiliki kelimpahan jenis individu fitoplankton (organisme penghasil makanannya sendiri yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop) yang rendah didominasi oleh chlorophyceae..

Berdasarkan sifat fisika, kimia dan biologi perairan habitat ikan Batak
termasuk kedalam oligotropik (Simangunsong et al., 2015), dimana keberadaan plankton (organisme mengapung yang berukuran sangat kecil) sangat sedikit yang menggambarkan tingkat kesuburan perairan (Sagala, 2012; Muthmainnah et al., 2012). Ikan Batak diperkirakan memijah bulan Januari-Februari atau pada musim penghujan (Kristanto et al., 2007).

Ikan tersebut memiliki 3 warna tubuh yang unik (hitam, putih dan keemasan), sedikit gelap dan memiliki 2 kumis di bawah mulut. Adapun ikan Batak yang didapatkan dari Danau Toba dan Hulu Sungai Asahan memiliki ciri morfologis : jari- jari keras dan 6 jari- jari lunak pada sirip dada, jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak pada sirip perut, jari-jari keras dan 6 jari-jari lunak pada sirip punggung, jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak pada sirip dubur, 20 jari-
jari lunak pada sirip ekor, dan memiliki 22 jumlah sisik pada bagian gurat sisi.

Selain itu, ikan Batak tersebut memiliki kecenderungan pertumbuhan panjang lebih cepat dari pertambahan berat badan, terdapat keseimbangan antara individu jantan dan betina ataupun betina lebih banyak daripada jantan dapat diartikan bahwa populasi tersebut masih ideal untuk mempertahankan kelestarian.

Berdasarkan hasil penangkapan yang diperoleh diperoleh ukuran
panjang rata-rata ikan Batak yang tertangkap dengan jala adalah sebagai berikut : Jantan : 26,00 cm, Betina : 25,04 cm. Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa ikan jantan umumnya tertangkap pada ukuran yang lebih besar dari ikan betina.

Ukuran pertama kali ikan matang gonad (alat berkembang biak ikan) penting diketahui karena dengan mengetahui nilai Lm (ukuran pertama kali ditangkap) maka dapat digunakan untuk menyusun suatu konsep pengelolaan lingkungan perairan (Rachmad et.al, 2019).

Adapun variasi tingkat kematangan gonad (TKG) pada ikan Batak jantan dan betina dari mulai TKG I,II,III dan IV. Penentuan tingkat kematangan gonad dilakukan secara visual dari warna, bentuk dan ukuran gonad (Sutjipto et al., 2013), dan ikan Batak yang tertangkap didominasi oleh TKG III.

Berdasarkan hasil pengamatan isi perut pada sampel ikan yang
diamati, ikan Batak tergolong dalam ikan omnivora (pemakan segala), terdapat beberapa jenis plankton dan hewan. Pengamatan ini sesuai dengan pernyataan (Sulastri et al., 1985; Haryono 1992 dalam Sinaga et al.,1999) tentang lambung ikan Batak yang membulat seperti kantong dengan usus berbentuk gulungan dan panjang usus 2-3 kali panjang tubuh (Rachmad et.al, 2019).

Hasil penelitian tentang kebiasaan makanan juga dilakukan oleh Barus et al (2014) di Sungai Asahan dimana sebagian besar ikan Batak memakan berbagai jenis plankton.

Alat tangkap yang digunakan masyarakat dalam pengambilan ikan Batak di sungai yaitu jala. Jala tebar atau jaring lempar (cast net) adalah jaring ikan yang berbentuk lingkaran kecil dengan pemberat. Dimana setiap tepinya yang dilempar atau ditebar oleh nelayan sampai menyebar di permukaan air dan tenggelam untuk menjerat ikan. Jala dibuat dari benang nilon dan memakai pemberat/timah dibawahnya dengan diameter 3 m dan mesh size 2 inch.

Jala tebar dioperasikan 5-10 kali tebar bahkan lebih tergantung ikan yang tertangkap. Jala diberikan pemberat dikarenakan keadaan perairan yang berarus deras (Rachmad et.al, 2019).

Gambar 2 A&B. Ikan Batak dari Genus Tor (Radona dan Subagja, 2017).

Akan tetapi, ikan Batak yang merupakan ikan endemik Sumatera Utara ini telah masuk dalam kategori terancam punah (vulnerable) berdasarkan Fishbase (Pengelola Data Spesies Ikan Seluruh Dunia) tahun 2014 dan IUCN Red List (Daftar Hewan Terancam Punah PBB) sudah sangat sulit untuk ditemukan di habitat alaminya. (Simanjuntak, 2012;Barus, 2016) dengan populasinya kian lama kian menurun dikarenakan beberapa faktor seperti lenyapnya habitat, pemanasan global (Wargasasmita, 2005), aktifitas penangkapan yang berlebihan, serta adanya desakan lingkungan tempat ikan-ikan ini berkembang biak menjadi rusak.

Adanya introduksi ikan Mas atau Nila ke dalam perairan maka semakin membuat keberadaan ikan Batak terancam. Sebab ikan introduksi memberikan dampak buruk terhadap telur ikan Batak dikarenakan ikan introduksi memakan telur-telur ikan Batak sedangkan ikan Batak hanya memijah dengan ikan Batak setempat. Jika keadaan ini berlangsung lama, maka kelangkaan terhadap ikan Batak semakin meningkat.

Melihat dari kepentingan ikan ini untukmasyarakat, maka perlu dilakukan pengelolaan/rekayasa dari segi habitat demi menjaga populasi ikan Batak untuk tetap lestari. Dengan memahami karakteristik eko-biologi ikan

Batak, maka dapat dilakukan upaya kegiatan konservasi ikan melalui penetapan sungai tertentu menjadi daerah habitat ikan yang didukung (Rachmad et.al, 2019).

Pembentukan Kelompok Mayarakat (Pokmasi) adalah salah satu cara yang efektif dalam melaksanakan proses pelestarian ikan Batak, dengan tujuan bahwa masyarakat menjadi ujung tombak pelaksana pelestarian di lapangan, sementara pemerintah menjadi fasilitator, yang menyediakan penyuluhan, koordinasi serta dana untuk menunjang kegiatan konservasi.

Salah satunya dengan melakukan domestikasi. Domestikasi adalah salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kepunahan terhadap populasi spesies yang terancam punah seperti ikan Batak (Neolissochilus thienemanni) yang memiliki nilai adat tinggi untuk masyarakat Batak.

Bentuk domestikasi yang bisa dilakukan yaitu lubuk larangan dekat aliran sungai yang deras sehingga ikan tetap mendapatkan suasana habitat aslinya. Kemudian pembuatan kolam beton dengan susunan batu mirip habitat asli serta aliran air deras yang berasal dari sungai tersebut.(Suprayitno,1986; Gambar 3). Demikian peraturan demi peraturan perlu ditetapkan untuk
perlindungan ihan Batak ini dan keberlanjutan kehidupan spesies ini (Jamal et al., 2011).

Gambar 3. Kolam beton di pinggir aliran sungai yang beraliran deras sebagai tempat budidayadan pemeliharan ikan Batak (Neolissochilus thienemanni, Ahl 1933). Keterangan :Canal = Saluran pembuangan air, River = Sungai, Salvage Zone = Zona Antara, NP (Nursery Pond) = Kolam Pemeliharaan Anakan, TP (Transition Pond) = Kolam
Transisi Antara Anakan dan Pembesaran, FP (Formation Pond) = Kolam
Pembentukan, dan RP (Rearing Pond) = Kolam Pembesaran.

Selain itu, perlu dilakukan upaya pemijahan dan budidaya ikan Batak mengingat ikan Batak hanya akan memijah dengan ikan Batak di habitat yang sama dengan memanfaatkan Balai Benih Ikan (BBI) yang telah dibangun pemerintah daerah Kabupaten Tapanuli Tengah.

Pemberian teknologi pembenihan ikan sudah biasa dilakukan dengan bantuan hormone HCG dan Ovaprim serta pemberian pakan komersial untuk pemijahan buatan dengan derajat penetasan yang tinggi guna mendapatkan benih ikan Batak yang berkualitas dan jumlah yang memadai dengan tujuan memulihkan ikan Batak di habitat aslinya (Rachmad et.al, 2019). Oleh karena sumberdaya ikan yang memiliki sifat akses terbuka, maka stok sumberdaya
ikan akan menurun hingga titik terendah.

Dalam rangka pengelolaan ikan Batak yang dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga sekitar dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang, maka perlu adanya kegiatan patroli di PUD untuk pengawasan/pengecekan langsung oleh DKP Kabupaten Tapanuli Tengah terhadap kegiatan penangkapannya serta menegakkan hukum bagi masyarakat yang melanggar ketentuan/regulasi daerah yang telah di tetapkan.

Selain itu perlu adanya kegiatan sosialisasi bagi masyarakat mengenai keadaan sumberdaya ikan Batak di alam sebagai langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar ikut serta dalam mewujudkan pemanfaatan yang lestari dan berkelanjutan. Peran pemerintah maupun
masyarakat sangat penting dikolaborasi dalam hal pengelolaan (Rachmad et.al, 2019).

Oleh : Ahya Gusnur Purba
Mahasiswa Program Studi Akuakultur
Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli.

Ahya Gusnur Purba, Mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.