Acara Aceh Culinari Festval Subulussalam Diprotes, Masyarakat Surati Walikota

  • Whatsapp
Acara pagelaran Aceh Culinaty Festival Kota Subulussalam

Sinarlintasnews.com | Subulussalam – Acara pagelaran Aceh Culinari Festval (ACF) yang digelar PPK Kota Subulussalam dan dinas terkait mendapat protes keras dari Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi).

Protes yang dilakukan Yapkessi bukan tanpa alasan, akan tetapi Yapkessi memprotes kegiatan tersebut yang di gelar di Stand Kota Subulussalam, dikarenakan sebagian besar makanan khas yang ditampilkan bukan makanan khas daerah Subulussalam maupun Singkil.

Bacaan Lainnya

“Beberapa masakan khas yang ditampilkan seperti Pelleng masakan itu adalah khas dari Pakpak bukan bukan dari Subulussalam atau Singkil,” ujar Munzir selaku wakil ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Yapkessi, Sabtu (6/7/2019).

Menurut Munzir, rangkaian acara yang ditampilkan di ACF tersebut seharusnya mempromosikan dan melestarikan budaya dan masakan khas kuliner Aceh ke masyarakat baik luar maupun dalam negeri.

“Ini adalah moment penting bagi Kota Subulussalam dimana seharusnya menunjukkan jati diri memiliki masakan khas Aceh tidak kalah enak dengan masakan khas daerah lain.

Tidak sampai disitu, Munzir juga sangat kecewa dengan pakaian adat yang dikenakan oleh duta wisata pada acara ACF tersebut bukan pakaian adat Subulussalam ataupun Aceh Sungkil melainkan pakaian adat daerahmlain.

“Sangat kecewa swkali, pada event ini juga seharusnya mengenakan pakaian adat setempat, bukan dari daerah lain, ini adalah moment penting di Subulussalam dan Singkil,” ujarnya.

Selain mendapat protes masakan khas dan pakaian adat yang disampaikan Munzir selaku wakil ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Yapkessi, protes lain juga turut disampaikan oleh Ogek Liza Delima selaku Pendiri Sanggar Seni Shekh Hamzah Fansuri (S2-SHaF) Banda Aceh yang juga kecewa dengan acara festival yang digelar oleh PPK dan Dinas Terkait Kota Subulussalan.

“Ketika semalam saya berkunjung ke anjungan Subulussalam saya juga mendengarkan musik yang memang tidak identik dengan masyarakat kota Subulussalam yaitu musik menortokh, ini kan bukan musik biasa yang sering kita dengarkan di Subulusalam Singkil, kenapa bukan medendang atau gambus, ini menjadi sebuah kekeliruan dan pendangkalan sejarah adat Suku Singkil” katanya.

Dikatakannya, seluruh penampilan yang dimperagakan di ACF sangat jauh berbeda dengan yang sebenarnya, makanan khas seharusnya menampilkan makanan berupa Lompong sagu, Nditak, Delawakh Manuk, Ikan Itu kekhah, dan beberapa masalakan khas kota Subulussalam lainnya.

Tampilan stand di kota Subulussalam sangat jauh berbeda mulai dari segi orname yang di pakai dalam anjungan hingga makanan yang disajikan, nakanan khas Subulussalam yang mestinya dapat dijual tidak ada dalam bentuk kemasan,” terang Ogek Delima.

Ogek menegaskan, seharusnya pemerintah atau dinas terkait dapat bersosialisasi dengan para tokoh masyarakat, tokoh adat dan budaya jika tidak paham dangan budaya asli Kota Subulussalam atau Sungkil.

“Kalau tidak paham harusnya sosialisasikan kepada masyarakat, agar tidak ada kekecewaan seperti yang tertadi saat ini,” kata Ogek

Terkait acara tersebut, Munzir dan Ogek Delima menyatakan, akan segera menyurati Walikota agar kedepan kejadian tersebut tidak terulang kembali. (Udin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *