Sibuk Mudik, Pelaku Bomber Sukoharjo Gagal Bertemu 72 Bidadari

  • Whatsapp
Pelaku percobaan bunuh diri saat dirawat dirumah sakit (foto istimewa)

Sinarlintasnews.com – Bidadari surga seolah menjadi alasan banyak orang untuk melakukan jihad. Bahkan, beberapa menggunakan cara-cara yang kurang elok, tak jarang pula memakai kekerasan untuk legitimasi hal tersebut.

Konon motivasi terbesar mereka yang menebar teror maupun melakukan bom bunuh diri, pembunuhan, dan kemungkaran lainnya adalah mendapatkan 72 bidadari di surga.

Bacaan Lainnya

Sama halnya seperti yang dilakukan yang diketahui berinisial RA warga Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharo, Jawa Tengah ini mercobaan bunuh diri sehari menjelag hari raya idul fitri 1440 H.

RA mnecoba bunuh dengan bom di Pospam Tugu Tugu Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah yang berlokasi tidak terlalu jauh dari tempat ia meledakkan diri.

Aksinyan untuk bertemu dengan 72 bidadari cantik sirna seketika karena bom yang ia gunakan tidak mampu menewaskan dirinya seketika dan hanya mengalami luka di sekujur tubuhnya.

Aksi nekat RA ini pun viral di berbagai media sosial dan menjadi isu pembicaraan terhangat saat ini.

Bahkan ada yang nenyebutkan, RA gagal mati karena para bidadari saat sedang sibuk mudik (pulang kampung), sehingga tak seorangpun bidadari yang datang menghampiri RA.

RA gagal masuk surga dan untuk bertemu dengan 72 bidadari untuk dipersuntingpun sirna. Kini RA hanya bisa merintih kesakitan dan penuh penyesalan, karena harus masuk Neraka dunia.

Banyaknya tindakan konyol melakulan bunuh diri menjadi teka-teki, sebab kita tidak tau maksud dan tujuan mereka sesungguhnya. Bila di kaitkan dengan mati syahid itu sangatlah mustahil.

Pria yang baru berusia 22 tahun ini harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Ortopedi Jawa Tengah. Karena bom yang ia gunakan diduga berdaya ledak rendah, sehingga tak sampai membuat dirinya Tewas seketika.

Bersyukur, dalam aksi percobaan bom bunuh diri itu tidak ada dari aparat kepolisian maupun warga sipil yang menjadi korban.

Sebelum dievakuasi ke rumah sakit, pelaku bom bunuh diri gagal itu sempat tergeletak, di dekat Pospam Simpang Tugu Kartosuro. Yang mana warga sekitar sempat berdesak-desakan untuk melihat kondisi tubuhnya yang penuh dengan luka itu.

Aksi bom bunuh diri ini bukan yang pertama kalinya terjadi, nanun sudah beberapa kali, akan tetapi kali ini berbeda dengan kejadian sebelumnya. Aksi nekat RA hanya menyakiti diri sendiri.

Selain mengalami luka-luka dan kemungkinan besar akan mengalami cacat permane RA juga kemungkinan harus mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkab perbuatannya.

Dikutip dari wikihadis.id menyebutkan, impian akan mendapatakan 72 bidadari disebutkan dalam Hadis riwayat al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad yang bersumber dari sahabat Miqdam bin Ma’di. Rasulullah bersabda.

“Orang yang mati syahid mendapatkan tujuh keistimewaan dari Allah; diampuni sejak awal kematiannya, melihat tempatnya di surga, dijauhkan dari adzab kubur, aman dari huru-hara akbar, diletakkan mahkota megah di atas kepalanya yang terbuat dari batu yakut terbaik di dunia, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, serta diberi syafaat sebanyak 70 orang dari kerabatnya.”

Timbulnya kata “bidadari (hur al-‘ain)” dalam hadis ini menarik untuk dicermati. Soalnya dalam riwayat lain, imbalan menikah dengan 72 tidak disebutkan. Perlu bahasan khusus untuk membuktikan apakah redaksi menikahi 72 bidadari merupakan tambahan (idraj) dari perawi atau bukan.

Terlepas dari persoalan ini, yang menarik untuk dipertanyakan adalah apakah imbalan bidadari itu faktual atau hanya sekadar ilustrasi?

Dalam literatur Islam, keindahan surga dinarasikan dengan sebuah tempat yang indah, penuh pepohonan, ada sungai yang mengalir, dan disediakan pula bidadari-bidadari cantik untuk para penghuninya. Gambaran ini tak jauh berbeda dengan pemandangan lokasi-lokasi wisata yang ada di Indonesia. Bagi orang Indonesia mungkin narasi seperti ini tidak terlalu fantastis, karena kita sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu.

Cerita bisa lain jika ilustrasi ini disampaikan kepada orang Arab, dulu ketika al-Qur’an diturunkan negeri mereka masih gersang, tandus, dan panas. Sehingga, gambaran tentang pohon,

sungai, plus bidadari cantik ialah ilustrasi paling pas untuk menggambarkan keindahan surga.

Impian menikah dengan bidadari kelihatannya merupakan iming-iming yang sangat menggiurkan bagi masyarakat Arab yang masih kental dengan pernikahan antar sesama klan dan mahar tinggi.

Dilihat dari aspek bahasa, kata hur al-‘ain (yang diterjemahkan dengan bidadari oleh banyak penerjamah) terdiri dari dua kata, hur artinya wanita yang putih, sementara al-‘ain diartikan wanita yang memiliki mata bulat yang indah. Hal ini secara tidak langsung menunjukan bahwa wanita paling cantik menurut bangsa Arab waktu itu ialah wanita yang berkulit putih dan bermata bulat. Standar ini tentu sangat relatif, masing-masing daerah memiliki standar yang berbeda-beda mengenai kecantikan perempuan.

Andaikan kisah tentang bidadari itu faktual, pertanyaan lanjutannya, siapa yang berhak memilikinya? Siapa yang dimaksud dengan syahid dalam hadis di atas?

Syahid bisa diartikan dengan “yang banyak disaksikan”, sebab kelak Allah dan para malaikat akan menyaksikan mereka masuk surga dan mereka juga akan menyaksikan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepadanya. Sementara secara terminologis, syahid berati orang yang meninggal di jalan Allah karena membela agama Allah.

Kemudian syahid juga identik dengan jihad, yang berati mencurahkan kemampuan, usaha, dan seluruh tenaga. Berikutnya, kata jihad ini mengalami perkembangan makna.

Jihad selalu diidentikkan dengan perperangan dan pertumpahan darah. Padahal bila diperhatikan dalam al-Qur’an dan hadis, jihad tidak hanya sekadar perang. Ibnu Umar mengatakan bahwa jihad adalah perbuatan baik (ihsan) dan perbuatan baik tidak selalu berati berperang. Apalagi melakukan aksi terorisme dan menganggu ketertiban umum, semisal bom bunuh diri. Dalam hadis lain juga disebutkan, orang yang meninggal karena sakit perut pun dapat dikategorikan mati syahid.

Intinya, ada banyak tafsir dan penggunaan kata syahid dan jihad dalam al-Qur’an dan hadis. Sekali lagi, andaikan menikah bidadari dengan 12 itu benar, kita juga perlu bertanya ulang, apakah layak mereka yang membunuh orang atas nama agama itu mendapatkan fasilitas tersebut? Bukankah melakukan pembunuhan, perang, dan bom bunuh diri di saat negara dalam keadaan aman merupakan tindakan kriminal yang dilarang agama?

Sejarah Nabi SAW pun berkata demikian. Beliau tidak pernah mendeklarasikan perang kecuali jika diserang terlebih dahulu dan demi menyelamatkan diri. (Int)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.